KOTA, Media Ponorogo – Geliat tahun ajaran baru 2026/2027 di SD Ma’arif Ponorogo terasa begitu istimewa. Senin (13/7/2026), ratusan siswa memadati GOR sekolah dengan wajah penuh antusiasme.
Momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan sekadar rutinitas, melainkan gerbang awal bagi 730 siswa untuk menapakkan kaki dalam ekosistem pendidikan yang inovatif, aman, nyaman dan berkarakter.
Kepala SD Ma’arif Ponorogo, Eny Lutafiyah, S.Pd., membuka langsung rangkaian MPLS dengan prosesi simbolis pelepasan burung dara.
Bukan sekadar seremonial, aksi tersebut dimaknai sebagai upaya sekolah untuk memotivasi anak didik agar memiliki impian setinggi langit.
”Kami ingin sejak hari pertama, anak-anak sudah merasakan atmosfer yang nyaman dan menyenangkan. Jika mereka merasa aman dan bahagia di sekolah, proses transfer ilmu akan berjalan jauh lebih efektif,” ujar Eny di sela kegiatan.
Kepercayaan masyarakat terhadap SD Ma’arif Ponorogo terus melonjak. Tahun ini, jumlah siswa baru kelas 1 menembus angka 118 anak, meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 109 siswa.
Total populasi siswa yang kini mencapai 730 anak menjadi bukti nyata bahwa kualitas pendidikan di sekolah ini diakui secara luas.
Prestasi yang konsisten di tingkat regional hingga nasional, ditambah dengan penguatan karakter berbasis Aswaja (Ahlussunnah wal Jama’ah), menjadikan SD Ma’arif Ponorogo pilihan favorit bagi orang tua yang mendambakan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual.
Menjawab tantangan zaman, SD Ma’arif Ponorogo tidak ingin sekadar diam.
Mulai tahun ajaran ini, pihak sekolah meluncurkan dua program unggulan yang bisa diakses siswa sejak kelas 1:
Pertama, Ekstrakurikuler Robotik: Wadah bagi para inventor cilik untuk mengasah logika berpikir, teknologi, dan teknik sejak dini.
Kedua, Program Bahasa Inggris (Kerjasama dengan Kampung Inggris Pare, Kediri): Membawa standar pembelajaran bahasa internasional langsung ke lingkungan sekolah, memastikan siswa mampu berkomunikasi dengan percaya diri.
”Kami sengaja menghadirkan program ini agar siswa memiliki skill masa depan yang kompetitif. Fokusnya bukan hanya materi, tapi memberikan pengalaman belajar yang aplikatif,” tambah Eny.
Di tengah maraknya isu perundungan di lingkungan pendidikan, SD Ma’arif Ponorogo mengambil langkah tegas.
Melalui MPLS, sekolah menekankan budaya anti-bullying. Eny memastikan bahwa setiap guru adalah orang tua bagi siswa, sehingga tercipta ikatan emosional yang kuat antara pendidik dan peserta didik.
”Kami ingin memastikan sekolah ini adalah tempat yang aman. Tidak ada tempat untuk bullying. Setiap sudut sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang suportif bagi anak,” tegasnya.
Rangkaian MPLS di SD Ma’arif Ponorogo dirancang selama satu minggu penuh dengan jadwal yang disesuaikan:
Kelas 1: Fokus pada pengenalan lingkungan sekolah secara menyeluruh.
Kelas 2 hingga 6: Fokus pada pengenalan lingkungan kelas baru serta penyampaian materi dari guru kelas masing-masing.
Agenda Mingguan: Pada hari Jumat, sekolah menjadwalkan kegiatan jalan santai yang diikuti dengan makan bersama untuk mempererat kebersamaan.
Agenda Sabtu: Sekolah mengagendakan pertemuan wali murid sekaligus pembentukan paguyuban kelas.
Sementara untuk Gebyar Talenta dan pengenalan ekstra baru akan dilaksanakan pada Sabtu pekan berikutnya agar materi utama MPLS tersampaikan dengan maksimal.
SD Ma’arif Ponorogo membuktikan diri bukan sekadar sekolah, melainkan rumah kedua yang siap mencetak generasi cerdas, berteknologi, dan berakhlakul karimah. (mas)

















































