SLAHUNG, Media Ponorogo – Memasuki Tahun Ajaran Baru 2026/2027, SMKN 1 Slahung Ponorogo kembali menunjukkan taringnya sebagai salah satu SMK rujukan. Lembaga vokasi ini sukses memenuhi pagu kuota dengan menyambut 540 siswa baru.
Sebagai langkah awal menyamakan visi, pihak sekolah menggelar Sosialisasi Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bersama para orang tua/wali murid di aula sekolah, Rabu (8/7).
Kepala SMKN 1 Slahung, Sutikno, S.Pd., menyampaikan bahwa antusiasme tinggi dari 540 murid baru ini menjadi indikator nyata meningkatnya kepercayaan (trust) publik.
”Ini menjadi bukti proses pembelajaran di SMKN 1 Slahung berjalan dengan baik dan prestasinya pun sudah mulai terlihat di berbagai lini,” ujar Sutikno di sela-sela acara.
Melonjaknya kepercayaan masyarakat ini memang didasarkan pada fakta lapangan. Sepanjang setahun terakhir, SMKN 1 Slahung menorehkan berbagai prestasi strategis.
Di antaranya, berhasil “pecah telur” meloloskan siswa ke Lomba Kompetensi Siswa (LKS) tingkat Provinsi Jawa Timur.
Di bidang seni dan kreativitas, sekolah juga konsisten berpartisipasi dalam ajang Festival Reog Ponorogo.
Puncaknya, salah satu siswa SMKN 1 Slahung terpilih secara eksklusif oleh Gubernur Jawa Timur untuk menghadiri Hari Pendidikan Nasional.
Dari total hanya 15 siswa SMA/SMK yang dipanggil se-Jawa Timur, salah satunya merupakan perwakilan resmi dari SMKN 1 Slahung.
Bagi manajemen sekolah, capaian ini menjadi tantangan besar untuk terus memperkuat soliditas internal dan mutu belajar.
Dalam kesempatan itu, Sutikno, S.Pd juga mensosialisasikan konsep baru “MPLS Ramah”.
Regulasi pun diperketat, salah satunya dengan larangan keras melibatkan alumni dalam kepanitiaan.
Hal ini dilakukan demi memastikan masa orientasi berjalan kondusif, aman, edukatif, dan bebas dari unsur perpeloncoan.
Melalui komitmen awal ini, SMKN 1 Slahung berharap seluruh rangkaian MPLS Ramah 2026 dapat berjalan tertib dan sesuai dengan pedoman baku yang ada.
Keselarasan pemahaman sejak hari pertama diharapkan mampu mengantarkan 540 siswa baru tersebut sukses menjadi generasi vokasi yang kompeten sekaligus berkarakter kuat di masa depan.
Melalui layar digital panggung bertajuk “Dua Dunia, Satu Tujuan”, Sutikno juga memaparkan formula kolaborasi yang seimbang antara pihak sekolah dan rumah.
Dalam analogi tersebut, sekolah berperan sebagai “sayap” yang memberikan ilmu pengetahuan serta mengasah keterampilan vokasi siswa agar siap kerja.
Sementara itu, rumah berperan sebagai “akar” yang menumbuhkan nilai kehidupan, membentuk kepribadian, serta menguatkan karakter anak.
Pihak sekolah menggarisbawahi bahwa prestasi anak di sekolah akan tumbuh berlipat ganda jika ditopang oleh tiga pilar utama di rumah.
Yakni, Perhatian (mendengarkan cerita dan kendala anak), Teladan (sikap pantang menyerah dan etika), serta Kebiasaan Baik (kedisiplinan dan tanggung jawab sehari-hari).
”Pendidikan vokasi tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Orang tua tidak boleh lepas tangan setelah menitipkan anaknya. Harus ada kerja sama yang erat antara pihak rumah dan sekolah dalam porsinya masing-masing,” tegas Sutikno. (mas)















































