GONTOR, Media Ponorogo — Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menggelar Resepsi Kesyukuran Peringatan 100 Tahun Gontor (1926–2026) dengan penuh khidmat dan meriah.
Acara puncak dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta disaksikan oleh ribuan santri, asatidz, dan tokoh-tokoh penting dari dalam maupun luar negeri, Sabtu 19 September 2026.
Dalam sambutannya yang sarat akan makna, humor segar, dan ketegasan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H. Hasan Abdullah Sahal, mengenang kembali perjalanan panjang berdirinya pesantren yang berdiri sejak satu abad silam tersebut.
Ia menceritakan bagaimana Gontor yang dulunya diidentikkan dengan istilah “nggon kotor” (tempat bermulanya berbagai kemaksiatan dan kekufuran tempo dulu) bertransformasi drastis menjadi pusat peradaban dan “nggon inspirator” bagi dunia pendidikan Islam.
”Dulu Gontor sering diplesetkan sebagai ‘nggon kotor’ karena banyaknya tantangan sosial saat itu. Alhamdulillah, pada tahun 1958 para pendiri telah mewakafkan pondok ini untuk umat Islam seluruh dunia. Kini, alumni Gontor telah mengabdi di berbagai lini kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar K.H. Hasan Abdullah Sahal di hadapan Presiden dan para hadirin.
Cerdas Menyikapi Sejarah dan Merawat Persatuan
Kiai Hasan juga menekankan pentingnya mengambil peran aktif dalam sejarah bangsa.
Mengutip semangat proklamator Bung Karno tentang “Jas Merah” (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah), beliau menegaskan bahwa Gontor tidak hanya belajar atau menyerah pada sejarah, tetapi senantiasa bertekad membangun sejarah dan peradaban baru.
Suasana kebangsaan semakin terasa ketika Kiai Hasan menyoroti indahnya harmoni keberagaman di Gontor.
Pesantren ini menjadi rumah bersama bagi berbagai kalangan umat Islam tanpa memandang sekat golongan—baik dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, maupun ormas Islam lainnya, yang hidup berdampingan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
Dalam rangkaian peringatan satu abad ini, Pondok Gontor memiliki gedung baru Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM). Gedung megah berkapasitas 4.000 hingga 5.000 orang ini dibangun di atas lokasi bersejarah yang dulunya bermodal tiang bambu dan pokok kelapa pada era tahun 1950-an.
Kehadiran Presiden Prabowo disambut antusias oleh para santri yang memadati area pondok.
Sebagai bentuk penghormatan dan kontribusi nyata kepada bangsa, acara ini juga dirangkai dengan penyerahan cinderamata istimewa berupa buku “Hadiah Gontor untuk Indonesia” serta peluncuran resmi Mushaf Gontor—Al-Qur’anul Karim yang naskah dan proses percetakannya dikerjakan secara mandiri oleh para santri dan percetakan Pondok Modern Darussalam Gontor.
Peringatan 100 Tahun Gontor ini tidak hanya menjadi simbol ketahanan institusi pendidikan Islam selama satu abad menghadapi berbagai zaman, tetapi juga memperkuat komitmen kaum santri dan pesantren untuk terus bersama-sama membangun kemajuan, kemandirian, dan masa depan bangsa Indonesia. (mas)















































