Oleh: Dr. Syarifan Nurjan, M.A, Asis Riat Winanto, SE, ME, Dr. Syamsul Arifin, M.Pd, Jawwad Sulthon Habiby, S.T, M.T, Fifi Arisanti, Fadhilah Mina Arsyila Dosen Universitas
Muhammadiyah Ponorogo & Peneliti Hibah Riset Muhammadiyah Batch IX
PONOROGO – Fenomena dakwah digital kini memasuki babak baru. Tim Peneliti dari
Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) melakukan terobosan besar dengan
mentransformasi pengurus masjid menjadi “Digital Da’i”. Inisiatif ini merupakan bagian dari
Diseminasi Penelitian Hibah Riset Muhammadiyah Batch IX Skema Fundamental Tahun 2025/2026 yang berkolaborasi dengan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.
Berpusat di Masjid Darul Hikmah Ponorogo, riset yang bertajuk “Revitalisasi Peran Masjid Melalui Ekosistem Digital Da’i” ini bertujuan untuk menjawab tantangan literasi agama dan isu toleransi di ruang siber.
Urgensi Literasi dan Moderasi di Ruang Digital
Masalah utama yang ditemukan di lapangan adalah kesenjangan teknologi (digital divide) di
kalangan pengurus masjid. Padahal, masjid memiliki potensi besar sebagai filter informasi hoaks dan penyemai benih toleransi.
Melalui skema penelitian tahun 2025/2026, kami memfokuskan pengembangan model pelatihan pengurus masjid di Masjid Darul Hikmah Ponorogo untuk naik kelas menjadi Digital Da’i.
Digital Da’i bukan sekadar ustadz yang pandai menggunakan media sosial, melainkan aktor peradaban yang mampu mengemas pesan agama dengan konten yang kreatif, berbasis data, dan menjunjung tinggi nilai-nilai inklusivitas.
Poin Utama Transformasi:
• Literasi di Atas Algoritma: Melatih pengurus masjid tidak hanya mahir konten, tetapi
juga mampu memproduksi narasi keagamaan yang moderat dan berbasis data ilmiah.
• Masjid sebagai Hub Peradaban: Menggeser paradigma masjid dari tempat ibadah statis
menjadi pusat ekosistem digital yang inklusif.
• Vaksin Radikalisme: Menggunakan platform digital untuk menyemai benih toleransi
secara masif guna membendung konten radikal di media sosial.
“Kami tidak hanya bicara tentang teknologi, tapi tentang bagaimana peran sentral masjid sebagai pusat peradaban tetap relevan di era AI dan algoritma. Masjid Darul Hikmah adalah role model yang akan kita replikasi ke berbagai wilayah,” ujar Dr. Syarifan Nurjan, M.A Ketua Tim Peneliti UMPO.
Riset ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi dan pengelola rumah ibadah
mampu menciptakan dampak signifikan bagi kemajuan umat, khususnya dalam mencetak
pendakwah yang fasih teknologi namun tetap teduh dalam penyampaian.
Biodata Singkat Peneliti: Dr.Syarifan Nurjan, MA adalah dosen tetap di Universitas
Muhammadiyah Ponorogo yang berfokus pada pengembangan studi Islam dan teknologi
informasi. Saat ini aktif sebagai peneliti utama dalam program Hibah Riset Muhammadiyah
Batch IX, sebuah program prestisius dari Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan
Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Model Pelatihan: Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Konten
Riset ini menawarkan model pengembangan yang sistematis melalui tiga pilar utama:
1. Akurasi Literasi Agama: Memastikan konten dakwah memiliki akar literatur yang kuat
(khazanah keislaman) namun disampaikan dengan bahasa yang relevan bagi Gen Z dan
Milenial.
2. Internalisasi Nilai Toleransi: Mengonstruksi narasi dakwah yang menyejukkan, guna
membendung radikalisme dan memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang
majemuk.
3. Infrastruktur Digital Masjid: Mengubah manajemen masjid konvensional menjadi
ekosistem digital yang terintegrasi, mulai dari pengelolaan zakat digital hingga syiar
melalui platform multimedia.
Masjid Darul Hikmah sebagai Role Model Center of Excellence
Mengapa Masjid Darul Hikmah Ponorogo? Melalui kolaborasi ini, masjid tersebut kini
diproyeksikan menjadi living laboratory atau laboratorium hidup bagi pengembangan dakwah digital. Hasil riset menunjukkan bahwa ketika pengurus masjid memiliki kapasitas sebagai Digital
Da’i, resonansi dakwahnya tidak lagi terbatas oleh dinding masjid, melainkan menembus batasbatas geografis. Dampaknya sangat signifikan. Masjid Darul Hikmah kini mulai bertransformasi menjadi Center of Civilization (Pusat Peradaban).
Di sini, teknologi digunakan untuk memuliakan manusia, memperluas akses ilmu pengetahuan, dan memperkuat ukhuwah.
Penutup: Menuju Estafet Dakwah Berkemajuan
Revitalisasi ini adalah panggilan bagi masjid-masjid lain di seluruh Indonesia. Keberhasilan model di Masjid Darul Hikmah merupakan bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi (Universitas) dan praktisi dakwah (Majelis Diklitbang) dapat melahirkan solusi konkret bagi umat.
Kita harus menyadari bahwa jika masjid tidak segera mengisi ruang digital dengan narasi yang mencerahkan dan toleran, maka ruang tersebut akan diisi oleh pihak-pihak yang mungkin menjauhkan umat dari nilai-nilai agama yang luhur. Mari jadikan masjid sebagai episentrum literasi dan peradaban di era digital. (***)
@ diktilitbang, @risetmu, @umpo, @masjiddarulhikmahponorogo















































