KOTA, Media Ponorogo – Ketua Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, mengeluarkan seruan keras dari Ponorogo untuk para pemimpin dunia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU yang diperingati di RSU Muslimat Ponorogo, Minggu (29/3/2026), ia menegaskan bahwa konflik bersenjata di berbagai belahan dunia bukan sekadar isu politik makro, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas dapur rumah tangga.
Dilema Dapur: Antara Perang dan Harga LPG
Khofifah menyoroti bagaimana ketegangan di Timur Tengah (Palestina, Yaman, Libya, Iran) serta Ukraina berdampak langsung pada kenaikan harga energi.
Beban Ibu Rumah Tangga: Gejolak harga LPG global akibat perang paling pertama dirasakan oleh kaum ibu yang sudah beralih dari kayu bakar ke gas.
Ekonomi Domestik: Kenaikan harga kebutuhan pokok dan energi membuat “jantung ibu-ibu berdegup lebih kencang” karena harus mengatur ulang anggaran belanja yang semakin mencekik.
Inisiasi Surat untuk PBB
Melihat dampak yang begitu sistemik, Khofifah berencana membawa suara Muslimat NU dan organisasi perempuan lainnya seperti Aisyiyah ke level internasional.
Ia menginisiasi pengiriman surat kepada PBB untuk mendesak hadirnya juru damai dunia.
“Perempuan bersatu, ibu-ibu bersatu seluruh dunia, menyampaikan pesan kepada PBB: Hentikan Perang, Ayo Bangun Perdamaian!” tegas Khofifah yang langsung disambut seruan setuju oleh ribuan jamaah yang hadir.
Meneruskan Semangat Komite Hijaz
Langkah ini disebut Khofifah sebagai bentuk modern dari semangat “Komite Hijaz” yang pernah diusulkan ulama NU satu abad silam untuk perdamaian dunia.
Baginya, suara perempuan adalah kunci yang mungkin selama ini ditunggu oleh dunia untuk meredam konflik.
“Jangan-jangan suara (ibu-ibu) ini yang sedang ditunggu oleh PBB,” pungkasnya di Rumah Sakit Umum Muslimat Ponorogo. (mas)












































