Berbalut Dakwah Islamiyah, Hadirkan Pengrawit Tunanetra Buktikan Ruang Seni Tanpa Batas
KOTA, Media Ponorogo — Grup Reog Taruno Suryo utusan SMA Muhammadiyah Ponorogo (SMA Muhipo) sukses menyuguhkan penampilan magis yang menggetarkan ribuan penonton.
Tampil dengan nomor urut 21, penampilan anak-anak muda Taruno Suryo dinilai sangat totalitas dan nyaris tanpa celah di Panggung Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI pada Sabtu malam (13/6/2026).
Keunikan terasa ketika ritme kuat dari gemuruh kendang berpadu manis dengan sisipan lagu kebanggaan “Sang Surya”.
Jangkah tarian jathilan yang dinamis serta gagahnya para warok menghadirkan getaran audio-visual yang intens.
Sesuai spirit lagu Sang Surya, Taruno Suryo benar-benar “menyala” menyinari panggung FNRP malam itu.
Bukan sekadar unjuk kebolehan seni, pentas Taruno Suryo dibalut dengan napas dakwah Islamiyah.
Karakter ini dinilai menjadi satu-satunya yang bertahan kuat mempertahankan identitas budaya dengan napas “Reog Islami” atau “Reog Santri” di level nasional.
“Saya mengamati dari ketukan pertama, benar-benar merinding. Subhanallah. Sampai tampilan pentas terakhir masih merinding. Luar biasa SMA Muhipo Taruna Surya, tampilannya menggemaskan dan menggetarkan,” ungkap salah satu tokoh yang hadir.
Reog Muhipo mampu menampilkan seni yang adiluhung dengan tetap mempertahankan nilai Islami di bumi Ponorogo.
Kesuksesan luar biasa ini tentu tak lepas dari dukungan banyak pihak. Kepala SMA Muhipo, Sugeng Riadi, M.Pd., menyampaikan rasa syukurnya yang mendalam. “Berkat doa semua elemen. Alhamdulillah,” tuturnya lugas.
Sugeng mengapresiasi siswa Taruno Suryo karena tampil all-out dengan seluruh jiwa raga dan riang gembira tanpa terbebani gengsi kejuaraan.
“Mereka telah meniatkan pentas tersebut murni sebagai ibadah kepada Allah SWT,” sebutnya.
Dengan menghadirkan energi spiritual tersebut, performa mereka memancarkan cahaya yang mempesona audiens. “Apresiasi juga sampaikan kepada Mas Luhur yang sukses mengkolaborasikan unsur unik yang menggetarkan dalam aransemennya,” ujarnya.
Pun, Di balik kemegahan performa Taruno Suryo, terselip pesan kemanusiaan dan inklusivitas.
Grup ini rupanya menggandeng seorang anak tunanetra untuk turut andil sebagai pengrawit (pemusik).
Hal ini membuktikan komitmen SMA Muhipo dalam memberikan ruang ekspresi yang setara.
“Di balik suksesnya tampilan tadi malam, ada mereka yang terbatas namun berhak berkesenian tak terbatas,” tegas Sugeng Riadi.
Melalui panggung FNRP XXXI, SMA Muhipo sukses mempertegas branding-nya.
Tidak hanya mencetak generasi yang unggul secara akademis, tetapi juga merawat generasi santri yang inklusif, berbudaya, dan berakhlak mulia. Sebuah definisi nyata dari jargon SMA Muhipo Menyala. (mas)









































