KOTA, Media Ponorogo – Grup Reyog “Watoe Dhakon” UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo menunjukkan kehebatannya dalam gelaran akbar Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI di panggung utama Alun-Alun Ponorogo.
Tampil pada malam kedua, Jumat (12/6/2026), grup dengan nomor urut 15 ini sukses menyihir ribuan pasang mata lewat pertunjukan yang spektakuler, penuh energi, sekaligus sarat akan nilai spiritual.
Meski harus tampil menjelang dini hari akibat pergeseran jadwal pasca-hujan, antusiasme dan performa maksimal yang ditunjukkan oleh ratusan mahasiswa UIN Kiai Ageng Muhammad Besari tidak kendur sedikit pun.
Mengawinkan Tradisi dan Religi Lewat “Reyog Santri”
Daya tarik paling memukau dari penampilan Watoe Dhakon malam itu adalah konsep “Reyog Santri” yang mereka usung.
Di balik gagahnya tarian warok, lincahnya jatil, dan megahnya dadak merak, terselip sebuah harmoni religi yang merindingkan bulu roma.
Pada penutup pertunjukan, seluruh anggota Watoe Dhakon dengan kompak melantunkan bait pembuka dari Nadhom Aqidatul Awam:
“Abda-u bismillahi wa-r-rohmani, Bi-r-rokhimi da’imil ihsani, Falhamdu lillahi qodimil awali, Al-akhiril baqi bila tahawwuli.”
Lalaran dari kitab ilmu tauhid karya Syeikh Sayyid Ahmad Al Marzuqi Al Maliki Al Hasani ini menggema di penjuru alun-alun.
Pemilihan Aqidatul Awam—yang sangat akrab di telinga para santri nusantara—menjadi simbol kuat bahwa seni budaya dan keislaman dapat melebur menjadi satu kesatuan yang indah dan sarat makna edukasi.
Harmoni Keilmuan, Keislaman, dan Budaya
Sentuhan religius dalam kesenian tradisional kebanggaan Ponorogo ini merupakan manifestasi dari visi besar kampus. Rektor UIN Ponorogo, Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag yang turun langsung menyaksikan jalannya festival, menyampaikan rasa bangganya.
“Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa kami tidak hanya sekadar belajar di bangku kuliah, tetapi juga aktif mengembangkan bakat dan minat dengan tetap menjaga keimanan. UIN Ponorogo adalah perpaduan utuh antara keilmuan, keislaman, dan budaya,” ungkap Prof. Evi.
Beliau turut memberikan apresiasi tinggi kepada tim Watoe Dhakon yang telah berlatih keras selama 2 hingga 3 bulan terakhir.
“Alhamdulillah, penampilannya sangat bagus dan maksimal. Meski harus tampil menjelang dini hari karena kendala cuaca, mereka tetap memberikan yang terbaik,” tambahnya.
Dikawal Langsung oleh Petinggi Kampus dan Kementerian Agama
Komitmen pelestarian budaya ini mendapat dukungan penuh secara institusional.
Menariknya, bangku penonton tidak hanya diisi oleh warga, tetapi juga oleh jajaran pimpinan rektorat secara lengkap. Rektor, para Wakil Rektor, Dekan, hingga Pembina UKM PSRM Watoe Dhakon, Mukafi, setia mengawal mahasiswa di garda terdepan menembus dini hari.
Bahkan, deretan kursi kehormatan turut dihadiri oleh para pejabat dari Kementerian Agama RI yang memberikan dukungan moril kepada satu-satunya kampus keagamaan Islam negeri di Ponorogo tersebut.
Membidik Puncak Prestasi di Era Transformasi
Tahun lalu, UIN Kyai Ageng Muhammad Besari sukses menembus peringkat 9 besar nasional.
Tahun ini, dengan persiapan yang lebih matang dan eksekusi konsep yang memukau, mereka menargetkan capaian yang jauh lebih tinggi. “Tentu harapannya di atas peringkat 9, kita ingin hasil yang terbaik dari tahun kemarin,” tegas Rektor optimis.
Bagi kampus, momentum FNRP XXXI dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 ini memiliki makna ganda.
Lebih dari sekadar panggung kompetisi, ini adalah tonggak sejarah penting untuk menegaskan identitas baru seiring transformasi kelembagaan dari IAIN menjadi UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
“Semoga ke depan, seiring dengan transformasi ini, kampus UIN Kiai Ageng Muhammad Besari semakin membawa nuansa yang lebih baik dan kontribusi yang lebih besar bagi dunia pendidikan maupun pelestarian budaya di Indonesia,” tutup Prof. Evi.
Malam itu, Watoe Dhakon tidak hanya menari; mereka berdakwah lewat budaya, dan membuktikan bahwa ruh santri bisa melebur sempurna dalam keagungan Reog Ponorogo. (mas)







































