JENANGAN, Media Ponorogo — Grup reog Sardulo Mudho Nirmala utusan dari SMPN 1 Jenangan tampil luar biasa di malam terakhir gelaran bergengsi Festival Reog Remaja (FRR) XXII Grebeg Suro 2026.
Memperoleh nomor urut tampil 22, grup ini sukses menyuguhkan tontonan seni yang megah, dinamis, dan sarat akan nilai estetika di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo.
Kontan saja, sajian itu membuat gemuruh tepuk tangan dan decak kagum ribuan penonton yang memadati kawasan Alun-Alun Ponorogo pada Rabu malam Kamis (10/6/2026).
Penampilan ini menjadi pembuktian nyata atas bakat dan kerja keras para generasi muda Kecamatan Jenangan.
Sejak menit pertama memasuki panggung, ritme rancak kendang dan sangarnya lambaian dadak merak yang dibawakan langsung membius penonton.
Kepala SMPN 1 Jenangan, Setiantono, S.Pd., M.Pd., tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan bangganya usai menyaksikan anak didiknya berlaga didampingi Januaji Wicaksono, S.Si Wakasek Kesiswaan.
“Alhamdulillah, saya sangat bangga dan senang sekali karena anak-anak penuh semangat menunjukkan benar-benar kompetensinya, khususnya dalam seni reog. Penampilan malam ini sungguh luar biasa,” ujar Setiantono dengan mata berbinar.
Strategi Berani: Didominasi Siswa Kelas 7 demi Regenerasi Jangka Panjang
Ada hal yang sangat istimewa sekaligus membedakan grup Sardulo Mudho Nirmala dari peserta lainnya pada FRR tahun ini.
Mayoritas seniman remaja yang turun ke panggung legendaris tersebut didominasi oleh siswa-siswi kelas 7.
Keterlibatan aktif siswa yang baru mengawali masa studi di sekolah menengah ini merupakan buah dari sistem pembinaan seni yang terstruktur dan berkelanjutan di SMPN 1 Jenangan.
Langkah berani ini sengaja diambil sekolah demi menjamin panjangnya rantai regenerasi seniman reog di internal sekolah maupun di Kabupaten Ponorogo secara umum.
“Insya Allah ini nanti regenerasinya panjang karena mayoritas kelas 7 yang mendominasi. Secara internal, persiapan latihan intensif kami lakukan sekitar dua bulan lebih,” urai Setiantono optimistis.
Di balik kesuksesan performa yang solid tersebut, terdapat proses seleksi dan pola latihan yang sangat ketat.
Pada kondisi reguler, ekstrakurikuler reog di SMPN 1 Jenangan dilaksanakan dua kali dalam seminggu.
Namun, menjelang satu bulan pelaksanaan FRR XXII, intensitas latihan ditingkatkan secara signifikan menjadi 4 hingga 5 kali seminggu demi mematangkan koreografi dan keselarasan musik pengiring.
Di bawah asuhan pelatih bertangan dingin, Mas Probo, anak-anak berbakat ini digembleng hingga mampu tampil tanpa celah di panggung utama.
Filosofi Mendalam di Balik Nama “Sardulo Mudho Nirmala”
Grup reog ini lahir langsung di era kepemimpinan Setiantono, S.Pd., M.Pd. Ia jugalah yang merumuskan nama penuh makna dan doa mendalam ini. Secara harfiah, nama tersebut memiliki arti:
Sardulo: Macan/Harimau (melambangkan kekuatan, keberanian, dan kewibawaan).
Mudho: Anak Muda (generasi muda yang penuh energi dan kreativitas).
Nirmala: Suci/Bersih (terbebas dari cacat dan kekurangan).
“Filosofinya, mewujudkan generasi muda yang memiliki jiwa suci dan bersih, berkemauan kuat, serta bertekad bulat mengembangkan seluruh kompetensi diri demi memajukan bangsa dan negara Indonesia,” jelasnya.
Bagi keluarga besar SMPN 1 Jenangan, kesempatan emas tampil memukau di panggung utama Grebeg Suro bukan sekadar unjuk gigi, melainkan sebuah penegasan visi besar sekolah.
Penampilan ini menjadi bukti autentik komitmen lembaga pendidikan tersebut dalam mengasah kompetensi non-akademik siswa.
“Ini sekaligus mengambil peran aktif dalam melestarikan warisan budaya leluhur, terutama seni Reog Ponorogo yang kini telah resmi diakui secara global oleh UNESCO,” tegasnya.
Menatap hasil evaluasi dua tahun keikutsertaan mereka dalam ajang FRR, pihak sekolah menaruh harapan besar agar kualitas performa grup reog kebanggaan mereka ini terus merangkak naik secara progresif.
“Target kami mudah-mudahan penampilan anak-anak malam ini bisa masuk dalam jajaran 10 besar. Ke depan, kami optimistis bisa lebih baik lagi dengan memaksimalkan potensi anak yang ada, didukung penuh oleh pembina, pelatih, serta komitmen para orang tua siswa,” paparnya.
Perhelatan sebesar dan se-prestisius ini tentu membutuhkan dukungan akomodasi dan pembiayaan yang tidak sedikit. “Dukungan sinergis dari orang tua adalah kunci keberlanjutan prestasi ini,” pungkas Setiantono. (mas)










































