JETIS, Media Ponorogo – Tampil sebagai penyaji pertama di malam puncak, grup Reog Taruno Mudho utusan SMPN 1 Jetis sukses menyuguhkan performa spektakuler.
Grup yang mempunyai nomor urut 19 ini tampil memukau malam terakhir Festival Reog Remaja (FRR) XXII Grebeg Suro 2026, Rabu (10/6/2026) di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo.
Penampilan yang matang, koreografi yang tertata apik, serta energi luar biasa dari para siswa SMPN 1 Jetis ini membuahkan decak kagum.
Koordinator Ekstrakurikuler Seni Tari Reog SMPN 1 Jetis, Artarini Edisi Pertama, S.Pd., tak dapat menyembunyikan rasa bangganya melihat anak didiknya menguasai panggung dengan sempurna.
“Alhamdulillah, sangat memukau. Kami sangat bangga pada anak-anak kami. Melihat penampilan, gerak, maupun koreografinya tadi, Insyaallah, Bismillah kita yakin juara. Allah memberi hasil yang sesuai dengan harapan kami,” ungkap Artarini usai pementasan.
Di balik suguhan durasi penuh yang epik tersebut, terdapat dedikasi latihan yang tak main-main.
Artarini membeberkan, Taruno Mudho membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk mempersiapkan diri, dengan fase latihan intensif yang dipadatkan selama satu bulan terakhir.
“Awalnya latihan satu minggu tiga kali. Namun, ketika sudah mendekati hari H, kami rutin berlatih setiap hari,” jelasnya.
Untuk menggemparkan panggung Alun-Alun Ponorogo, SMPN 1 Jetis menurunkan kekuatan penuh.
Sebanyak 48 penari inti yang tampil murni merupakan siswa-siswi kebanggaan SMPN 1 Jetis.
Sementara untuk divisi pengrawit (pemusik) yang berjumlah sekitar 20 anak. Sedangkan pembarong sekolah melakukan kolaborasi strategis.
Selain kekompakan, Taruno Mudho juga membawa ‘senjata rahasia’ berupa inovasi yang menjadi pembeda dari grup lainnya.
Artarini menyebut, inovasi tersebut terletak pada atraksi pembarong yang unjuk gigi langsung di area panggung.
“Pembeda malam ini, kami ada inovasi atraksi Dadak Merak di dalam panggung. Dengan ukuran dadak merak standar SMP, alhamdulillah anak didik kami sangat kuat membawakannya. Selain model dadak standar, kami juga menampilkan dadak yang bisa bermanuver lebih lebar. Ini inovasi yang sepertinya belum ada di penampilan peserta lain sebelumnya,” beber Artarini yang telah dua tahun berturut-turut mendampingi tim di ajang FRR ini.
Kekuatan Taruno Mudho sejatinya tidak lahir secara instan. SMPN 1 Jetis memiliki strategi jitu yang menjamin tidak akan ada kata ‘kehabisan generasi’ seniman Reog di sekolah mereka.
Rahasianya ada pada integrasi seni budaya ke dalam kurikulum wajib.
“Setiap akhir semester di kelas 8, kami rutin mengadakan Festival Reog Anak Antar Kelas. Jadi, per kelas itu wajib menampilkan rangkaian festival tari Reog lengkap dengan ragam yang berbeda-beda. Ini sudah kami masukkan ke dalam program kurikulum,” papar Artarini.
Program festival antar kelas yang disebut-sebut baru satu-satunya diterapkan di tingkat SMP di Ponorogo ini menjadi kawah candradimuka bagi bibit-bibit seniman muda.
Siswa kelas 7 hingga kelas 8 terus dipacu untuk tampil dan berkreasi.
“Harapannya, festival antar kelas ini dapat menguatkan dan menambah semangat anak-anak untuk tampil semakin baik dan sempurna. Melalui pembinaan yang berkelanjutan ini, kami siap untuk terus mewakili SMPN 1 Jetis di ajang Festival Reog Remaja setiap tahunnya dengan ragam dan garapan yang selalu dimaksimalkan,” pungkasnya. (mas)










































