KOTA, Media Ponorogo – Persaingan menuju panggung Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 dipastikan bakal seketat tahun-tahun sebelumnya.
Menyadari hal tersebut, SMA Negeri 3 Ponorogo langsung tancap gas dengan melakukan langkah strategis.
Sekolah yang dikenal gudangnya prestasi ini sengaja mengkarantina ketat anggota Grup Reog Manggolo Wiyata demi menyajikan performa terbaik di Panggung Utama Alun-Alun Ponorogo.
Tidak main-main, tim pelatih yang digandeng merupakan kolaborasi kelas berat.
SMAN 3 Ponorogo mendatangkan Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya (UB)—pemegang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia sekaligus juara bertahan FNRP XXXI (2025)—serta praktisi seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Langkah progresif ini mendapat apresiasi langsung dari Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita.
Perempuan yang akrab disapa Bunda Lis tersebut menyempatkan diri mengunjungi langsung lokasi karantina Manggolo Wiyata di hall SMAN 3 Ponorogo pada Kamis (28/5/2026) lalu untuk membakar semangat para siswa.
Kepala SMAN 3 Ponorogo, Suratno, S.Pd, M.Pd, menegaskan bahwa karantina ini merupakan bentuk keseriusan sekolah dalam menatap FNRP tahun ini.
Targetnya jelas: membawa pulang prestasi tertinggi. “Kami sengaja menggandeng UB dan ISI Surakarta karena target kami adalah juara. Selain itu, kami bersyukur wali murid memberikan dukungan penuh. Mereka sadar, anak-anak ini adalah calon pewaris seni Reog Ponorogo yang tidak ternilai harganya,” ujar Suratno mantap.
Sementara itu, Achmad Dipoyono, praktisi seni dari ISI Surakarta, menilai kolaborasi antara sekolah, universitas, dan praktisi seni merupakan formula tepat untuk melahirkan pertunjukan yang matang.
Meski begitu, ia mengingatkan anak-anak Manggolo Wiyata untuk tidak cepat puas.
“Melihat hasil latihan selama ini, capaian tim masih sekitar 50 persen dari target. Masih ada waktu untuk mendongkrak performa sebelum hari H,” kata Dipoyono mengevaluasi.
Menariknya, keterlibatan aktif para siswa dalam melestarikan reog kini bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler pengisi waktu luang.
Di hadapan para siswa, Bunda Lis mengingatkan bahwa Reog Ponorogo kini memiliki nilai tawar yang sangat tinggi, terlebih setelah resmi masuk daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO dan FNRP masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) Kemenparekraf.
“Menggeluti Reog Ponorogo itu bukan sekadar aktivitas seni, tapi bisa jadi bekal masa depan. Kemampuan dan dedikasi di bidang ini bisa menjadi tiket emas masuk perguruan tinggi negeri (PTN) lewat jalur prestasi. Kalau kalian berprestasi, Bunda sendiri yang akan tanda tangan memberikan surat rekomendasi,” ujar Bunda Lis yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan para siswa.
Bunda Lis juga mencontohkan Alex, seorang pembarong lokal yang kini bisa melanglang buana ke berbagai negara berkat keahliannya memainkan dadak merak. “Capek berlatih itu pasti, tapi peluang kariernya sangat terbuka,” imbuhnya.
Di sisi lain, Pembina Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya, Denny Widhiyanuriyawan, menjelaskan alasan di balik kesediaan UB menggembleng SMAN 3 Ponorogo.
Meski Grup Reog Brawijaya absen berkompetisi di FNRP tahun ini karena berbenturan dengan jadwal Ujian Akhir Semester (UAS), komitmen mereka dalam kaderisasi seniman reog tidak lantas surut.
“Kerja sama UB dengan Pemkab Ponorogo sudah terjalin sejak Juni 2025 lalu. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral kami untuk menjaga keberlanjutan budaya sekalian menjaring talenta muda berbakat asli Ponorogo,” terang Denny.
Ia memastikan bahwa Universitas Brawijaya siap memberikan karpet merah bagi siswa SMAN 3 Ponorogo yang konsisten mengukir prestasi di bidang seni reog.
“Siapa pun yang punya prestasi dan konsistensi, berhak mendapat rekomendasi untuk mendaftar kuliah di UB,” pungkasnya.
Melalui karantina intensif dan kolaborasi akademis-praktis ini, SMAN 3 Ponorogo tidak hanya sedang mempersiapkan sebuah tim untuk memenangkan festival, namun juga tengah menempa generasi muda yang siap merebut masa depan lewat jalur kelestarian budaya. (ist/mas)









































