GONTOR, Media Ponorogo — Perayaan Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) menyisakan banyak momen bersejarah dan penuh makna.
Di hadapan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, serta ribuan hadirin yang memadati area perhelatan, Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato yang sarat akan pesan kebangsaan, moderasi, dan persaudaraan umat.
Dalam penyampaiannya, Kiai Sahal menegaskan komitmen kuat bahwa Gontor senantiasa berdiri mandiri di atas dan untuk semua golongan, tanpa sekat kepentingan politik maupun golongan tertentu.
Fondasi utama pesantren ini tetap berpijak kokoh pada nilai-nilai dasar Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan, mengikuti ijtihad mulia para pendirinya.
Merajut Kebersamaan NU dan Muhammadiyah
Salah satu poin paling menarik dan mendapatkan sorotan luas dari audiens adalah bagaimana Gontor mampu menjadi titik temu yang harmonis bagi dua ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Gontor tidak mengubah identitas keorganisasian para santrinya, melainkan merangkul dan mendidik mereka dalam bingkai ukhuwah.
Berikut adalah petikan lengkap sambutan K.H. Hasan Abdullah Sahal yang menggambarkan indahnya harmoni tersebut:
”Kami di sini, Bapak Presiden, tidak keluar dari kata-kata iman, Islam, ihsan, sesuai dengan ijtihad para pendiri.”
”Sehingga, Gontor ini dari NU masuk sini, keluar NU lagi. Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi. Pimpinan Nahdlatul Ulama menjadi santri Gontor dan pimpin Nahdlatul Ulama, putranya PP Muhammadiyah Kiai Haji Badawi—anaknya dulu di sini juga—dan yang ada kita ini banyak sekali anak-anak Muhammadiyah mempunyai anak dan mantu NU, banyak anak-anak NU punya mantu Muhammadiyah.”
Candaan Hangat Titel “As-swabi” yang Cairkan Suasana
Suasana khidmat dan formal di hadapan Kepala Negara mendadak menjadi lebih cair, hangat, dan diwarnai gelak tawa ketika Kiai Sahal menceritakan latar belakang keluarganya dengan gaya khas yang santai.
Sambil berkelakar mengenai identitas keagamaan yang kerap dilekatkan pada dirinya, beliau membagikan cerita kekeluargaan yang menyatukan berbagai latar belakang.
Berikut petikan kelakar beliau yang mengundang tawa satu ruangan:
”Saya, saya ini orang bebas, orang-orang bilang itu Muhammadiyah agak Wahabi dikit gitu saya. Tapi, menantu saya NU kabeh, Pak. Akhirnya, saya mendapat titel baru: Hasan Abdullah As-swabi (As-swaja Wahabi)”
Konsistensi Menjaga Kemerdekaan dan Umat Sejak Zaman Belanda
Selain menyoroti kerukunan lintas ormas, Kiai Sahal juga mengingatkan kembali tentang rekam jejak panjang pengabdian Gontor bagi bangsa Indonesia.
Jauh sebelum Republik ini diproklamasikan, pondok pesantren telah mengambil peran vital dalam mendidik anak bangsa, berjuang melawan penjajah, serta membimbing umat.
Berikut petikan penutup dari beliau mengenai sejarah perjuangan Gontor:
”Pondok kita ini sejak pertama, sejak zaman Belanda, mendidik, memerdekakan bangsa, memerdekakan umat dari kesesatan, dari kekafiran.”
Peringatan satu abad Gontor ini menjadi penegasan nyata bahwa lembaga ini akan terus berdiri di atas dan untuk semua golongan, merawat persatuan nasional, serta menjadi penjaga kedamaian di bumi pertiwi. (mas)














































