SUKOREJO, Media Ponorogo – Peringatan Milad seperempat abad (25 tahun) Pondok Pesantren Darul Falah, Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, berlangsung semarak dan penuh khidmat.
Puncak perayaan ini diisi dengan acara “Ngaji Bareng” yang menghadirkan dai kondang KH. Anwar Zahid, atau yang akrab disapa Abah Anza.
Kemeriahan acara ini semakin terasa dengan kehadiran Cak Dio Kurniawan serta lantunan selawat dari Grup Hadrah As Syafaat Darul Falah.
Acara ini dipandu dengan apik oleh MC Ersa Tata yang menghidupkan suasana sejak awal.
Tepat pukul 22.50 WIB, Abah Anza mulai menyapa jamaah dan membuka tausiyahnya.
Di hadapan pengasuh pesantren, jajaran pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, wali santri, hingga ribuan warga yang hadir, Abah Anza langsung menyoroti peran sentral pesantren dalam menjaga moralitas bangsa.
Dalam muqodimahnya, penceramah tersebut menyampaikan doa dan harapan besar agar Ponpes Darul Falah senantiasa istikamah dalam mengasuh serta membimbing santri dan masyarakat menuju rida Allah SWT.
“Mudah-mudahan Pesantren Darul Falah ini benar-benar bisa mencetak generasi-generasi yang qurani, generasi-generasi yang shalihin dan shalihah,” tuturnya.
Lebih lanjut, Abah Anza mengingatkan kembali visi besar berdirinya pondok pesantren. Menurutnya, pesantren adalah kawah candradimuka bagi kader-kader Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
“Darul Falah didirikan di antara tujuannya adalah regenerasi kader-kader Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagai penerus estafet perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, yang di Indonesia ini diikrarkan oleh para aulia, para ulama, sampai ke Sukorejo, Ponorogo ini,” paparnya.
Ia pun menyoroti realitas sosial belakangan ini, di mana manusia yang diciptakan sebagai makhluk paling mulia, kerap kali menjatuhkan martabatnya sendiri akibat terbawa hawa nafsu dan meniru perilaku yang lebih rendah dari manusia.
Memasuki kajian inti, kiai asal Bojonegoro ini mengupas ironi kehidupan masyarakat modern.
Ia mengajak jemaah bernostalgia membandingkan perjuangan anak zaman dahulu dengan generasi masa kini yang serba instan.
“Anak zaman dulu itu kalau sekolah enam tahun di SD, dibelikan sepatu cuma sekali. Buku satu itu untuk semua pelajaran; ya untuk Matematika, Bahasa Indonesia, IPS, IPA, bukunya cuma satu itu. Kalau nulis salah, tidak punya penghapus, akhirnya digosok pakai karet. Kaus kaki kendur saja diikat pakai karet,” kenang Abah Anza.
Kondisi serba terbatas itu, lanjutnya, sangat kontras dengan era sekarang.
Saat ini, hampir tidak ada orang yang berpakaian lusuh, dan rumah-rumah warga sudah dibangun megah. Namun di balik kemewahan materi tersebut, ada harga mahal yang harus dibayar.
“Kehidupan kita kalah sama orang dulu. Moralitas kita kalah, ketenteraman hidup kita kalah, dan barokahnya hidup kita kalah sama orang zaman dulu,” tegasnya mengkritik gaya hidup modern.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Abah Anza menekankan pentingnya proses regenerasi dalam keluarga, dan bukan sekadar reproduksi. Ia memberikan definisi yang mendalam terkait dua konsep ini.
Menurutnya, regenerasi adalah proses mendidik dan melahirkan “anak historis” atau “anak zaman”—yakni generasi yang mampu mengukir sejarah, mencetak prestasi, dan memiliki kontribusi nyata dalam kehidupan.
Sementara reproduksi, sebatas melahirkan “anak biologis” tanpa adanya pewarisan nilai dan moral yang kuat.
Di akhir paparannya, ia mengingatkan salah satu tantangan terberat yang merintangi generasi masa kini untuk menjadi anak historis. “Generasi sekarang (sering kali) terhambat karena stok kemajuan teknologi,” pungkasnya.
Pesan ini menjadi alarm pengingat bagi para orang tua, santri, dan masyarakat luas di Ponorogo agar lebih bijaksana memanfaatkan teknologi, sembari terus menanamkan akhlakul karimah di tengah laju zaman. (mas)















































