Ditulis oleh : Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd Dosen, Pelaku Seni, Anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, dan Pengkaji Seni Pertunjukan Tradisi
Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI Tahun 2026 kembali menunjukkan bahwa Reog adalah kesenian yang hidup, tumbuh, dan terus bergerak mengikuti perkembangan zamannya.
Beragam kontingen hadir dengan kekuatan dan karakter masing-masing, menghadirkan eksplorasi artistik yang memperlihatkan semangat kreativitas para penggarap dalam mengembangkan seni Reog.
Perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang beku. Reog terus tumbuh bersama perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan pergantian generasi.
Berbagai pendekatan baru dalam pengolahan gerak, komposisi musik, tata artistik, hingga pembangunan dramatika pertunjukan menunjukkan bahwa Reog memiliki kemampuan untuk terus berdialog dengan zamannya tanpa kehilangan identitas budayanya.
Namun di balik dinamika yang menggembirakan itu, terdapat fenomena yang menarik untuk dicermati bersama. Dalam berbagai penampilan terlihat adanya kecenderungan pola-pola artistik yang bergerak ke arah yang relatif serupa. Inspirasi dan saling belajar tentu menjadi bagian alami dari perkembangan kesenian.
Akan tetapi, ketika kecenderungan mengikuti pola yang sedang berkembang menjadi lebih dominan daripada upaya menemukan karakter dan gagasan sendiri, ruang keberagaman ekspresi artistik perlahan dapat menyempit.
Di tengah perkembangan tersebut, muncul satu pertanyaan penting: apakah sesuatu yang kreatif dan atraktif otomatis dapat disebut adiluhung? Belum tentu. Kreatif adalah kemampuan menghadirkan kebaruan, sedangkan atraktif adalah kemampuan menarik perhatian. Adiluhung menuntut sesuatu yang lebih dari keduanya. Adiluhung berbicara tentang kedalaman gagasan, kekuatan nilai, dan kemampuan sebuah karya untuk tetap bermakna melampaui zamannya. Sebuah pertunjukan dapat memukau penonton dalam sesaat, tetapi belum tentu meninggalkan jejak dalam perjalanan kebudayaan.
Fenomena yang terlihat dalam berbagai penampilan menunjukkan bahwa budaya selalu bergerak melalui proses saling memengaruhi dan saling belajar.
Dalam pandangan ahli kajian budaya Stuart Hall, budaya tidak pernah diam, melainkan terus membentuk dan dibentuk oleh masyarakatnya. Karena itu, perubahan dan inovasi merupakan bagian alami dari kehidupan sebuah tradisi.
Namun pada saat yang sama, era budaya populer juga menghadirkan tantangan baru. Arus informasi yang cepat membuat berbagai bentuk garap mudah menjadi tren dan segera ditiru. Kondisi inilah yang melahirkan apa yang dapat disebut sebagai fomoisme garap, yaitu kecenderungan mengikuti pola yang sedang berkembang karena khawatir tertinggal dari arus kreativitas yang sedang berlangsung.
Dalam dunia seni pertunjukan, persoalan tersebut sesungguhnya berkaitan dengan proses garap itu sendiri.
Menurut pemikiran Rahayu Supanggah, garap bukan sekadar merangkai unsur-unsur pertunjukan, tetapi merupakan proses kreatif yang melibatkan tafsir, pengalaman, pengetahuan, dan kepekaan artistik. Karena itu, kualitas sebuah karya tidak cukup diukur dari kemeriahan pertunjukannya, melainkan juga dari kedalaman proses yang melahirkannya.
Atas dasar itulah, “Resistensi terhadap Fomoisme Garap: Memilih Karya Reog yang Adiluhung” menjadi relevan untuk dimaknai. Resistensi bukan berarti menolak perubahan, melainkan keberanian untuk tidak kehilangan arah di tengah derasnya berbagai kecenderungan yang datang silih berganti.
Sebab karya yang adiluhung lahir bukan karena mengikuti apa yang sedang ramai, tetapi karena mampu menghadirkan gagasan, nilai, dan karakter yang memberi makna bagi kehidupan budaya masyarakat.
Karya adiluhung bukan hanya dipahami sebagai karya yang megah secara visual atau spektakuler di atas panggung. Karya adiluhung adalah karya yang lahir dari kesungguhan proses, kedalaman gagasan, penghormatan terhadap tradisi, dan keberanian menawarkan pembacaan baru yang tetap berpijak pada akar budaya. Karya semacam inilah yang tidak hanya memukau penonton, tetapi juga memperkaya perjalanan kebudayaan Reog itu sendiri.
Ke depan, FNRP diharapkan terus berkembang tidak hanya sebagai arena kompetisi, tetapi juga sebagai ruang pertukaran gagasan, laboratorium kreativitas, dan forum kebudayaan yang mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru tentang masa depan Reog.
Penguatan riset, dokumentasi, kajian artistik, pengembangan instrumen, serta regenerasi penggarap perlu terus didorong agar Reog tetap tumbuh sebagai tradisi yang hidup, terbuka terhadap perkembangan, sekaligus kokoh menjaga identitas budayanya.
Masa depan Reog tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga oleh kemampuan melahirkan karya-karya yang memiliki karakter, nilai, dan makna yang layak diwariskan kepada generasi mendatang. Sebab Reog yang adiluhung tidak lahir dari ketakutan untuk tertinggal, melainkan dari keberanian untuk berpikir, berkarya, dan menjaga martabat budaya. (***)









































