Home Budaya Antisipasi Terkikisnya Budaya Tradisional, MGMP Bahasa Jawa SMP/ MTs Lomba Nembang...

Antisipasi Terkikisnya Budaya Tradisional, MGMP Bahasa Jawa SMP/ MTs Lomba Nembang Macapat

171
0
Drs Parwoto MSi serahkan piala kepada pemenang lomba macapat.

PONOROGO, (MP) – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMP/ MTs Kabupaten Ponorogo menggelar Lomba Nembang Mocopat KA 11.

Kegiatan yang dihelat di Ballroom PCC hari Rabu & Kamis (27-28/9/2017) mendapat antusias luar biasa dari peserta.

Terbukti lomba ini diikuti ratusan peserta. Terdiri dari SD putri 31 peserta, SD putra 29 peserta, SMP putri 38 peserta dan SMP putra 36 peserta.

Drs. Parwoto, M.Si selaku ketua panitia mengakui Nembang Macapat tetap eksis di era global. Kesenian adiluhung itu masih diminati di kalangan generasi muda.

“Terbukti banyak peserta yang ikut. Bahkan ada usulan peserta tidak usah dibatasi jumlahnya,” ungkapnya.

Menurutnya, Lomba Nembang Macapat yang digelar dalam rangka Peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo ke 521 dan Grebeg Sura 2017 ini dilatar belakangi untuk mengantisipasi terkikisnya seni budaya tradisional di era global.

“Seni Tradisi Tembang macapat masih layak dilestarikan dan dikembangkan karena untuk menanamkan karakter pada anak. Dalam tembang jawa di samping bisa sebagai tontonan dalam liriknya juga berisi atau mengandhung  tuntunan dan tatanan,” paparnya.

Ratusan peserta nampak antusias mengikuti perlombaan. Mereka berupaya menjadi yang terbaik dengan menampilkan tembang macapatnya.

Peserta dituntut tampil untuk dinilai tiga hal. Pertama kesesuaian suara dengan nada gamelan, warna suara dan penampilan.

Apalagi lomba ini dinilai oleh dewanjuri luar daerah yang kompeten di bidangnya. Seperti Bambang SP, M Sn guru SMKN 12 Surabaya, Joko Susilo, M Sn dosen STKW Surabaya dan Sudarsana, S Sn guru SMAN 1 Trenggalek.

Menurut Parwoto tujuan digelarnya acara ini adalah untuk melestarikan seni budaya tradisional khususnya tembang macapat. Juga untuk menanamkan rasa cinta budaya bangsa sejak dini kepada generasi penenerus.

“Tak kalah pentingnya juga memberikan wadah  kompetisi dalam berkesenian serta memberikan hiburan yang etis, estetis dan edukatis,” sebutnya.

Rutinnya gelaran lomba nembang mocopat ini, kata Parwoto menjadi bukti bahwa MGMP Bahasa Jawa SMP/MTs berkomitmen ikut melestarikan budaya Jawa khususnya seni tembang  macapat.

Selain itu, materi pembelajaran bahasa jawa khususnya tembang macapat dapat di implementasikan  dalam lomba tembang macapat.

“Ini menjadi bukti pula bahwa MGMP bahasa Jawa ikut berpartisipasi untuk memajukan daerah di bidang pendidikan melalui pembinaan seni tembang,” sebutnya.

Parwoto yang juga ketua MGMP Bahasa Jawa SMP/ MTS Kabupaten Ponorogo ini berharap melalui lomba ini budaya jawa khususnya tembang jawa tetap lestari dan berkembang di era global.

Pun, karena diikuti pelajar harapannya tumbuh generasi muda yang cinta akan budayanya dan mau menggeluti  serta mempelajarinya.

“Luar biasanya sekarang ini banyak kelompok-kelompok macapatan orang dewasa yang ada dan tumbuh di Ponorogo,” sebutnya.

Nilai lebihnya, kata Parwoto budaya jawa khususnya tembang jawa bisa sebagai wahana pendidikan karakter bagi generasi muda.

“Sehingga generasi kita tidak akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang mempunyai budaya atau adat ketimuran,” pungkasnya. (asr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here