Home Birokrasi Festival Reyog Abaikan Pedoman Dasar

Festival Reyog Abaikan Pedoman Dasar

119
0

PONOROGO, (MP) – Festival Nasional Reyog Ponorogo maupun Festival Reyog Mini tahun 2017 rampung digelar dan sudah keluar 10 besar pemenangnya. Meski begitu masih banyak persoalan serius yang perlu dicermati kedepannya.

Pasalnya, sejumlah pihak melihat indikasi kesenjangan terhadap pemahaman pedoman dasar. Bahkan, pedoman dasar yang seharusnya menjadi acuan garapan agaknya tidak lagi menjadi pegangan kuat. Parahnya, tampilan sejumlah peserta dalam Festival Reyog dinilai sudah banyak yang melanggar atau mulai keluar dari acuan pedoman dasar tersebut.

“Yang jelas persoalan pokoknya terletak pada aplikasi atau penerapan Pedoman Dasar pelaksanaan Fetival Reyog sebagai dasar penilaian. Ada beberapa ditemukan melanggar karena dalam konteks visual/penampilan baik musik dan koreografinya banyak yang mulai keluar dari acuan pedoman dasar. Hal ini belum menyangkut termasuk dalam rasa garap yang sulit untuk diteorikan khususnya tentang nilai /rasa Lokal Ponoragan,” ungkap Shodiq Pristiwanto seniman asli Kota Reyog.

Anehnya, kata dia, adanya pelanggaran terhadap pedoman dasar yang sudah menjadi kesepakatan tokoh reyog ini tetap berjalan dan terkesan dibiarkan begitu saja.

Shodiq sediri sempat mendapat protes dari sejumlah tokoh reyog tradisi yang menyampaikan keresahanannya terkait dengan festival yang dinilai sudah keluar dari pedoman dasar yang mereka istilahkan “Pakem”. “Saya ketemu sejumlah masyarakat reyog dan menyampaikan kritik terhadap festival reyog, salah satunya menyebut musiknya tidak karuan,” sebutnya.

Dia menegaskan, sebenarnya dalam pedoman dasar itu redaksinya sudah dijelaskan dengan batasan. Selama garap musik itu dimunculkan dari instrument reyog tidak masalah. Namun tidak diperkenankan memasukkan di luar instrument reyog. Meski begitu ia menjumpai peserta yang mengakali. Seperti menggunakan kenong lebih dari dua dan celakannya ada unsur kesengajaan dgn nada yang berbeda. “Ada seniman mbeling, wujude memang kenong, karena gatel mungkin pingin beda,” ungkapnya.

Anehnya meski sudah jelas melanggar namun dibiarkan saja oleh panitia. “Apakah sengaja dibiarkan ataukah apa ya mungkin kecolongan, atau karena memang dominasi tidak berlebihan dalam tampilan tersebut dan kebetulan yang melanggar ini masuk deretan juara FRM,” sebutnya.

Shodiq juga menemukan adanya garap vokal yang bisa dikata terlalu dipaksakan dalam sisi rasa vocal karawitan. Dimana, ia melihat masuknya warna vokal yang membuat reyog kehilangan ketradisionalnya bahkan lebih menuju kekinian. “Saya melihat banyak sekali  masuknya garap warna vocal yang kehilangan rasa tradisi Reyog sebagai seni kerakyatan. Banyak yang memaksakan garap menuju kekinian, contoh warna banyuwanginan, sehingga kesannya bukan iringan reyog,” ungkapnya.

Dia menganalogikan, ketika mendengarkan garap iringan yang memaksakan ini tanpa melihat visual tarinya akan terasa bahwa itu bukan iringan reyog. “Ketika mengiringi jatilan rasa ketradisionalanya ini menjadi –tipis-tipis, kalau tidak melihat video, ini iringan reyog apa bukan saya mengatakan bukan, tapi ketika melihat video eh ternyata reyog to ini tadi,”jlentrehnya.

Ia menemukan hampir merata di wilayah garap iringanan. “Tapi ini bukan kesalahan atau tidak bisa dikatakan salah dalam kontek  untuk perkembangan seni secara umum. Tapi ingat kita harus sadar dan patuh ketika ini untuk event Lomba /kompetisi yang mempunyai frame /batasan,” tegasnya.

Melihat pelanggaran ini, Shodiq tidak mau menyalahkan siapapun. “Siapa yang disalahkan, tidak bisa disalahkan. Tapi yang paling pas menurut saya bagaimana mengkaji fenomena ini disikapi secara profesional dgn kesadaran yang tinggi dari semua aspek,” ungkapnya.

Ia khawatir, kalau pelanggaran ini dibiarkan terjadi dan masuk menjadi juara maka bisa berefek negatif. “Salah satunya, para pemenang yang melanggar pedoman dasar itu nanti akan menjadi barometer bagi grup reyog lain yang tidak juara,” sebutnya.

Ia khawatir kalau tidak ada pemahaman yang sama  dalam sebuah kesepakatan akan menimbulkan kesenjangan. Karena festival ini diikuti oleh kalangan di luar Ponorogo juga. “Mungkin Jakarta mereka masih ngugemi konsep lama, mereka tidak ikut-ikutan berkembang, mereka masih berpegang pada pedoman lama,” sebutnya.

Lebih parahnya lagi, kalau pelanggaran ini diketahui maka bisa menimbulkan konflik di sektor peserta. “Ketika mengetahui pedoman banyak yang dilanggar, kemudian juara maka akan menimbulkan celah untuk menjatuhkan panitia. Jika dikonfrortasi ke panitia pun bisa lemah,” pungkasnya. (asr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here