BADEGAN, Media Ponorogo — SMAN 1 Badegan membuktikan kualitasnya dengan sukses menjadi tuan rumah perhelatan bergengsi Monitoring dan Evaluasi (Monev) serta Focus Group Discussion (FGD) Program SMA Double Track Wilayah Kabupaten Ponorogo, Kamis (3/9/2026).
Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan langsung ke Bazar Produk Double Track oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M., bersama Ketua Tim SMA Double Track dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr. M. Zainul Asrori, M.Si.
Para pejabat Disdik Jatim dan Tim ITS didampingi Kacabdindik Wilayah Ponorogo antusias mengelilingi stan pameran produk dari 10 SMA pelaksana Double Track se-Kabupaten Ponorogo.
Mulai SMAN 1 Badegan, SMAN 1 Balong, SMAN 1 Bungkal, SMAN 1 Jenangan, SMAN 1 Jetis, SMAN 1 Kauman, SMAN 1 Ngrayun, SMAN 1 Pulung, SMAN 1 Sampung, dan SMAN 1 Slahung.
Dalam kesempatan itu, dipamerkan produk-produk unggulan karya siswa dari berbagai bidang keterampilan, yakni Tata Busana, Multimedia & Desain Grafis, Tata Boga/Pastry dan lain-lain.
Di sela-sela peninjauan stan bazar, Kepala SMAN 1 Badegan, Siti Mariyani, S.Pd, M.Pd menyampaikan rasa bangga dan syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya untuk memfasilitasi agenda strategis provinsi tersebut.
“Kami sangat bersyukur dan merasa terhormat SMAN 1 Badegan dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan kegiatan Monev dan FGD Double Track se-Kabupaten Ponorogo. Kedatangan Bapak Kadisdik Jatim dan Tim ITS memberikan energi serta motivasi yang sangat besar bagi seluruh civitas akademika kami,” tutur Siti Mariyani, S.Pd, M.Pd.
Siti Mariyani menguraikan bahwa program Double Track di SMAN 1 Badegan telah konsisten berjalan selama enam tahun dan telah memberikan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh para siswa maupun alumni.
“Program Double Track ini sudah berjalan selama enam tahun di SMAN 1 Badegan dan terbukti memberikan dampak yang sangat nyata. Program ini membekali anak-anak kami dengan keterampilan vokasi yang konkret, sehingga bagi siswa yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka memiliki bekal berharga untuk langsung berwirausaha mandiri atau masuk ke dunia kerja,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Siti Mariyani menegaskan komitmen sekolah untuk terus berbenah dan menindaklanjuti seluruh catatan serta arahan dari Kepala Dinas Pendidikan Jatim.
“Seluruh arahan dan catatan penting dari Pak Kadisdik Jatim, khususnya terkait peningkatan rasa percaya diri siswa saat berinteraksi dengan konsumen serta penciptaan produk yang memiliki keunggulan kompetitif berbasis kearifan lokal, akan segera kami tindak lanjuti sebagai evaluasi utama. Kami ingin anak-anak SMAN 1 Badegan semakin mandiri, percaya diri, dan memiliki daya saing tinggi di pasar,” tegasnya.
FGD dan Pengarahan Kadisdik Jatim: ‘Ponorogo Harus Naik Kelas’
Usai meninjau stan pameran dan berinteraksi langsung dengan para siswa, seluruh rombongan dan peserta bergerak menuju aula utama untuk mengikuti sesi Focus Group Discussion (FGD) dan pemaparan evaluasi.
Dalam arahannya pada forum FGD, Kadisdik Jatim, Dr. Aries Agung Paewai, S.STP., M.M, memberikan apresiasi tinggi atas kesiapan SMA Double Track di Kota Reog.
Ia menegaskan bahwa program Double Track di Ponorogo telah menorehkan capaian yang membanggakan, tetapi evaluasi berkelanjutan sangat penting agar seluruh sekolah peserta dapat ‘naik kelas’.
“Kita sudah punya 10 SMA Pelaksana Double Track di Ponorogo dengan 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS) dan ribuan alumni yang tercatat. Ini praktik-praktik baik yang luar biasa. Namun, jangan berhenti pada kepuasan atas produk yang sudah kita buat. Sekarang waktunya Ponorogo naik kelas,” ujar Aries.
Aries menggarisbawahi pentingnya inovasi produk yang berakar pada kearifan lokal serta penguatan soft skill siswa dalam berkomunikasi.
“Produk anak-anak kita sudah bagus, tetapi keberanian untuk berbicara dan mengeksplorasi diri masih harus terus dilatih. Dari hulu ke hilir—mulai dari proses produksi, kemasan, nilai ekonomi, hingga kemampuan pemasaran—semuanya harus berjalan linier. Setiap sekolah harus memiliki satu kekuatan unik yang menjadi ciri khasnya,” imbuhnya.
Tim ITS Apresiasi Perkembangan Ekosistem Kewirausahaan Siswa
Pada sesi yang sama, Ketua Tim SMA Double Track ITS, Dr. M. Zainul Asrori, M.Si., menguraikan kerangka kerja 5P (Pelajari, Produksi, Pasarkan, Pelanggankan, dan Perbesar) sebagai fondasi kemandirian siswa.
Menurutnya, skema keberhasilan program vokasi SMA tidak hanya diukur dari kuantitas produk, melainkan keberlanjutan transaksi ekonomi yang dialami oleh siswa.
“Program Double Track dirancang bukan sekadar memberi keterampilan teknis, melainkan membuka jalan kemandirian bagi siswa SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Melalui kolaborasi bersama Dinas Pendidikan Jatim, kita ingin memastikan setiap Kelompok Usaha Siswa (KUS) mampu membaca peluang pasar dan menciptakan produk yang benar-benar diminati konsumen secara berkelanjutan,” ungkap Zainul Asrori.
Capaian Program Double Track Kabupaten Ponorogo
Berdasarkan paparan data evaluasi resmi yang disampaikan dalam forum FGD tersebut menunjukkan capaian yang gemilang.
Saat ini di Ponorogo ada 10 SMA Pelaksana Double Track, Indikator Keikutsertaan: 22 Rombongan Belajar (Rombel), 631 Siswa Aktif (Tahun Ajaran 2026), 109 Kelompok Usaha Siswa (KUS), 4.289 Alumni Terdata
Dampak Keberlanjutan Alumni: 1.824 Alumni (42,52%) telah terserap di dunia kerja. Ada 366 Alumni (8,53%) berhasil membuka lapangan usaha mandiri/wirausaha.
Capaian Transaksi Ekonomi: Realisasi nilai transaksi penjualan produk/jasa siswa menyentuh angka Rp 161,1 Juta atau 75,97% dari target Rp 212,1 Juta.
Suksesnya penyelengaraan acara—mulai dari pameran bazar hingga forum FGD—makin menguatkan posisi SMAN 1 Badegan sebagai salah satu sekolah rujukan pelaksanaan program Double Track dan pusat kewirausahaan siswa di Kabupaten Ponorogo. (mas)















































