KOTA, Media Ponorogo — Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Masjid (LPCRPM) menggelar rangkaian workshop nasional bertajuk pengembangan amal usaha ekonomi dan sociopreneurship di Ponorogo.
Kegiatan akbar yang berlangsung selama tiga hari ini resmi dibuka pada Jumat sore dan dipusatkan di lingkungan SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (SMA Muhipo).
Ketua LPCRPM Ponorogo, Suhandoko, mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi di tingkat cabang dan ranting Muhammadiyah.
Sebanyak 76 peserta dari berbagai penjuru tanah air—mulai dari Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, hingga Pulau Jawa—antusias mengikuti acara ini. Peserta terjauh tercatat hadir dari Sumatera Utara.
“Tujuannya untuk pengembangan amal usaha ekonomi di tingkat cabang dan ranting dalam rangka menuju kemandirian ekonomi,” ujar Suhandoko.
Workshop nasional ini menghadirkan berbagai materi praktis dan strategis. Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan praktik baik pengelolaan ekonomi dari Daya Surya Sejahtera (Suryamat), Ketua LPCRPM Wilayah Jawa Timur, Direktur Masjid Baitul Muttaqin, hingga perbankan syariah.
Di hari berikutnya, fokus kegiatan diarahkan pada penyusunan perencanaan strategis pengembangan ekonomi tingkat cabang dan ranting.
Ponorogo sebagai Tuan Rumah dan Percontohan Nasional
Dipilihnya Ponorogo sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Secara ekonomi, daerah ini dinilai mampu berkembang pesat dan layak menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia.
Salah satu kisah sukses yang diangkat adalah perkembangan Suryamart yang kini tidak hanya berekspansi di Ponorogo, tetapi juga merambah ke luar daerah, termasuk di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang telah memiliki jaringan distributor resmi.
Selain itu, model pengembangan ekonomi berbasis masjid yang dimotori oleh Masjid Baitul Muttaqin melalui pendirian Suryamart dan Restomu turut menjadi contoh inspiratif.
Hal senada juga diungkapkan oleh Helmi Kurniawan, peserta workshop asal Yogyakarta yang mewakili Masjid Al-Irsyad di bawah PDM Kota Yogyakarta.
Ia mengaku sangat terkesan dengan kenyamanan fasilitas serta sambutan hangat selama kegiatan berlangsung di SMA Muhipo.
“Ini luar biasa. Kami baru pertama kali ini mengikuti workshop dan di lingkungan SMA ini suasananya sangat nyaman, ramah, dan ruang kelasnya sangat memadai, baik untuk belajar maupun istirahat peserta,” ungkap Helmi.
Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat segera diekskalasi dan diaplikasikan untuk memperkuat dakwah dan kemandirian ekonomi di lingkungan masjid daerah asal mereka.
Malam Apresiasi Budaya dan Penampilan Spektakuler Reog
Sebagai puncak rangkaian acara pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026, panitia menyuguhkan malam apresiasi bertajuk “Jagongan Budaya” di halaman SMA Muhipo.
Acara ini dimeriahkan secara khusus oleh penampilan Reog Taruno Suryo dari SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo serta Soryo Netro Budoyo dari Panti Asuhan Tunanetra Terpadu ‘Aisyiyah Ponorogo di bawah binaan Polres Ponorogo.
Suhandoko menambahkan, malam hiburan ini sengaja dihadirkan untuk menyambut para peserta dari berbagai daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisi khas Ponorogo.
“Malam hari ini intinya kita hiburan, judulnya apresiasi budaya, mengenalkan budaya khas Ponorogo. Karena pepatah mengatakan, kalau ke Ponorogo belum menikmati Reog, maka belum sah ke Ponorogo,” pungkasnya.
Melalui perhelatan nasional ini, Ponorogo tidak hanya sukses memperkuat jejaring ekonomi persyarikatan, tetapi juga berhasil mengukuhkan diri sebagai pusat inspirasi budaya dan kemandirian ekonomi yang mendunia. (mas)









































