Home Headline Dukung Reyog Serentak, Miris Jatilan Tak Pakai Ebyek & Eksploitasi Goyang Erotis

Dukung Reyog Serentak, Miris Jatilan Tak Pakai Ebyek & Eksploitasi Goyang Erotis

1415
0

PONOROGO, (MP) – Program gebyak reyog serentak tiap tanggal 11 yang dicanangkan pemerintah kabupaten Ponorogo hari ini, Minggu (11/8/2019) memasuki bulan kedua.

Sudirman seniman Ponorogo menilai program ini cukup bagus bila dilihat dari sisi pelestarian dan pengembangan kuantitas untuk memantabkan Ponorogo Bumi Reyog. “Ok. Itu bagus,” ungkap Sudirman yang juga pembina Sanggar Kartika Puri Paju kepada Media Ponorogo.

Tampilan jatilan yang tidak memakai ebyek kuda kepang saat tampil di gebyar obyok serentak

Meski begitu, Sudirman mengaku prihatin bila melihat dari sisi tema tarian yang ditampilkan. Keprihatinan Sudirman ini salah satunya karena penari Jathilan yang tidak mau memakai Eblek kuda kepang. “Padahal itu jelas adalah properti alat menari pokok bagi tari bertema penunggang kuda,” katanya.

Sudirman menegaskan, jika hal ini dibiarkan oleh penasehat reyog, pelindung reyog atau sesepuh Reyog tentu akan kurang baik dilihat oleh penikmat seni Reyog dan Jathilan. “Karena ini jelas sudah keluar dari judul tari jathilan,” kritiknya.

Selain itu, Sudirman berharap agar Jatil jangan mengeksploitasi gerak goyang erotis saja yang sangat digemari oleh penonton. Sehingga itu akan mengaburkan dan menghilangkan inti dan jati diri dengan judul Tari Jathilan.

“Ini harus segera dibenahi dari berbagai elemen pemerhati dan pecinta Reyog Ponorogo khususnya di tari Jathilan. Harus dikembalikan pada porsinya,” ujarnya.

Selanjutnya, Sudirman juga melihat adanya Barongan ketika diedreki dilepas topengnya dan dia menanggapi gerakan goyangan erotis yang dilakukan oleh jatilan.

“Nah ini terkesan porno atau apa ya? Karena seakan memaksakan bergoyang di wajah pembarong,” sebutnya.

Kemudian, pada peran tokoh Bujangganong, Sudirman melihat sangat tidak pada porsinya minta diedreki oleh penari Jatilan. “Edrek itu adalah meledek dan membagi perhatian pada musuh agar lengah. Padahal Bujangganong dan Jatil itu satu tim. Kenapa kok ada edrekan seperti itu,” tanya Sudirman heran.

Tampilan yang keluar dari inti tari ini, menurut pengamatan Sudirman sudah berlangsung lama.

Dia berharap, jangan sampai ada kesan reyog Ponorogo jatilnya sangat berani dengan goyangannya yang erotis. “Saya sangat prihatin dengan joget Jatilan di era anak-anak sekarang,” pungkasnya. (as)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here