Home Headline Sholat Ied Kamis Pagi, Jamaah Thariqah Syathariyah di Sukorejo Ponorogo Lebaran Lebih...

Sholat Ied Kamis Pagi, Jamaah Thariqah Syathariyah di Sukorejo Ponorogo Lebaran Lebih Awal

0

SUKOREJO, Media Ponorogo – Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Darul Islam, Desa Sukorejo, Kabupaten Ponorogo pada Kamis (19/3/2026) pagi.

Ratusan jamaah Thariqah Syathariyah berkumpul untuk melaksanakan salat Idul Fitri lebih awal dibandingkan ketetapan umum pemerintah.

Sejak matahari terbit, masjid di lingkungan pondok pesantren tersebut mulai dipadati jamaah yang datang dengan pakaian muslim khas bersarung.

Menariknya, jamaah yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah Ponorogo, tetapi juga dari luar kota seperti Madiun, Kediri, hingga Wonogiri.

Genap 30 Hari Berpuasa

Perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri ini didasari oleh keyakinan yang dipegang teguh secara turun-temurun. Ahmad Khumaidi, imam salat Ied setempat, menjelaskan bahwa penentuan hari raya ini merujuk pada hitungan masa puasa yang telah mereka lalui.

“Kami melaksanakan salat Ied hari ini karena puasa kami sudah genap 30 hari. Awal puasa kami dimulai pada hari Selasa lalu,” ujar Ahmad Khumaidi usai pelaksanaan ibadah.

Toleransi Tinggi dan Pengamanan Ketat
Meski terdapat perbedaan waktu hari raya, kerukunan antarwarga di Kecamatan Sukorejo tetap terjaga dengan sangat baik. Masyarakat sekitar tampak menghormati jalannya ibadah tersebut, mencerminkan tingginya nilai toleransi di Bumi Reog.

Pihak kepolisian dari Polsek Sukorejo juga hadir untuk memastikan situasi tetap kondusif. Kapolsek Sukorejo, IPTU Agus Tri Cahyo Wiyono, menyatakan bahwa pengamanan ini dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi warga yang merayakan Idul Fitri hari ini.

“Kami dari Polri hadir untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Jangan sampai perbedaan menjadi pemecah belah; justru perbedaan inilah yang membuat warna menjadi indah. Di sini toleransi sangat kuat,” tegas IPTU Agus.

Tradisi Kenduri dan Silaturahmi

Usai melaksanakan salat, rangkaian ibadah ditutup dengan momen hangat penuh kebersamaan. Para jamaah saling bermaafan dan menggelar tradisi kenduri. Setelah doa bersama dipanjatkan, mereka menikmati hidangan bersama-sama sebagai simbol syukur dan keharmonisan sosial.

Tradisi ini membuktikan bahwa keberagaman praktik keagamaan di Ponorogo tidak menjadi penghalang bagi terciptanya ketertiban dan kemanan masyarakat (kamtibmas) yang stabil. (ist/mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here