PRABU Klono Sewandono Raja Bantarangin mungkin tidak menyangka Kesenian Reyog Ponorogo yang ia ciptakan sebagai salah satu syarat meminang Dewi Songgolangit gadis pujaannya, kini telah menjadi seni budaya yang adhiluhung di kancah nasional dan internasional. Lebih dari itu, Reyog yang murni sebagai seni budaya asli Ponorogo ini jika dikembangkan ternyata bisa menembus semua sisi kehidupan manusia salah satunya di bidang kesehatan.
Di tangan Sriningsih, salah seorang Bidan Praktik Mandiri di Kecamatan Balong, Reyog Ponorogo disulap menjadi sebuah tarian yang diproyeksikan bisa bermanfaat bagi ibu hamil.
Mengadopsi Jathilan, salah satu tarian dalam seni Reyog Ponorogo, Sriningsih terinspirasi menciptakan sebuah karya bernama Tari Jathil untuk Ibu Hamil sejak tahun 2016.
Bidan Sriningsih tergerak mencetuskan ide Jathil Dance for Pregnant Mothers ini karena ingin berkontribusi menekan angka kematian ibu (AKI) di Ponorogo.
Sriningsih mengaku miris mengetahui hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI Indonesia sebesar 359 per 100 ribu kelahiran hidup. “Angka tersebut masih tertinggi di Asia,” tegasnya.
Sedangkan data kasus kematian Ibu di kota Reyog ini pada pada tahun 2016 menurut Dinas Kesehatan Ponorogo, ada 12 kasus. Bahkan meningkat di 2017 menjadi 18 kasus. Sedangkan pada 2018 ada 9 kasus, dan dari Januari-Agustus 2019 sudah ada 7 kasus.
Sedangkan Kasus Kematian Bayi pada 2016 mencapai 177 kasus. Tahun 2017 ada 155 kasus. Sedangkan 2018 ada 134 kasus dan Januari-Juli 2019 ada 74 kasus.
“Penyebab langsung kematian ibu diantaranya pendarahan, ekslampsia dan infeksi, penyakit, dan komplikasi. Sedangkan penyebab tidak langsung seperti status gizi, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan kualitas layanan kesehatan,” ungkap Sriningsih.
Sebagai bidan, ia merasa punya tanggungjawab untuk ikut berperan aktif dalam menekan AKI dan memfasilitasi ibu yang tengah mengandung agar melahirkan dengan lancar dan selamat.

Pemerintah sebenarnya sudah melakukan berbagai kebijakan. Seperti meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu untuk penyelamatan ibu hamil dan bersalin.
Disamping itu, pemerintah juga menyediakan pelayanan terhadap ibu hamil berupa antenatal care yaitu pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, diantaranya dengan memfasilitasi senam hamil.
Sriningsih kemudian bertekad mengoptimalkan mental dan fisik ibu hamil dengan fokus senam hamil sebagai salah satu pelayanan prenatal atau sebelum kelahiran seperti yang disarankan pemerintah.
Menurut Sriningsih, kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor terjadinya kematian ibu dan bayi baru lahir. Karena, ibu hamil yang kurang gerak memiliki resiko, seperti kemampuan fisik menurun selama kehamilan, hipertensi, diabetes, dan kurang pertumbuhan pada janin.
“Selain pertolongan persalinan di fasilitas kesehatan, senam hamil ini merupakan sebuah inovasi untuk menurunkan AKI,” terangnya.
“Pemerintah sebenarnya sudah oprak-oprak agar aktif senam hamil dalam kelas ibu hamil karena melihat pentingnya senam hamil dalam menghadapi proses persalinan,” ungkapnya.
Bahkan sebetulnya sudah ada tiga macam senam hamil yakni aerobik, kalestenik dan rilaksasi. “Senam aerobik merupakan aktivitas senam berirama, berulang, namun cukup melelahkan,” ungkapnya.
Namun, Sriningsih melihat selama ini masih sedikit ibu hamil yang aktif melakukan senam.
Oleh karenanya, ia berpikir keras menciptakan sebuah senam hamil yang disukai ibu hamil, sekaligus aman, mudah dan murah.
Perempuan yang kini berusia 70 tahun ini tertuju pada gerak Tari Jathil Reyog Ponorogo. Dia melihat gerak tarian Jathil yang cenderung halus tapi lincah dan genit. Hal ini didukung gerak ritmik tari yang silih berganti antara irama mlaku (lugu) dan irama ngracik.
“Tari Jathil walaupun berwatak prajurit, namun sebagian gerakan tarinya cenderung feminin, halus dan lincah. Sehingga sesuai dengan tujuan dan manfaat senam hamil,” ungkapnya.
Setelah mengamati dan memahami gerak tari Jathil lebih mendalam, Sriningsih akhirnya punya ide mengembangkan konsep senam hamil berbasis tari jathilan.
Setidaknya ada 12 gerakan tari Jathil yang diadopsi di tari Jathil untuk ibu hamil ini. Mulai dari lari (jalan nyongklang), drap (jalan di tempat), sembahan, jalan lenggang di tempat plus edreg (gerakan menggoda), ogrek bahu ke kanan dan ke kiri, loncatan dan gejukan, tanjakan & polah kaki, bumi langit, ukel karno (memutar telapak tangan di samping telinga), lawung (seblak kanan dan seblak kiri), dilanjutkan congklang, gladhen peperangan atau kanuragan dan ditutup congklang.
Sebagai tahap awal, Sriningsih menerapkan tari Jathil untuk ibu hamil ini kepada 30 ibu hamil yang mengikuti kelas hamil di Puskesmas Balong dan Puskesmas Pembantu Desa Ngumpul.
Ketika meminta izin, Sri sapaan akrabnya, mengaku ide tari Jatil untuk ibu hamil ini sempat dipertanyakan keamanannya oleh Kepala Puskesmas. “Beliau khawatir ibu hamil nanti bisa keguguran semua kalau menari Jathil,” ceritanya.
Namun keraguan itu berhasil dipupus Sriningsih, dengan menjelaskan bahwa dalam senam hamil, gerakan tari Jathilan tidak semua langkah diadopsi. “Sebagian langkah sudah disesuaikan dengan keadaan ibu hamil,” sebutnya.
Pun, tari Jathil baru bisa dimulai ketika usia kehamilan berusia 24 minggu atau enam bulan. “Sedangkan kalau ada kelainan baru dapat dimulai setelah usia kehamilan 8 bulan,” tambahnya.
Dalam perjalanannya, Sri memperkuat tari jathil untuk ibu hamil ini melalui penelitian yang mendalam. Populasinya, ibu bersalin yang saat hamil mengikuti kelas Ibu hamil di Puskesmas Balong.
Sriningsih bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Ponorogo dalam penelitian yang berjudul Perilaku Ibu Hamil dalam Senam Gerakan Tari Jathilan Ponorogo di Wilayah Puskesmas Balong Kabupaten Ponorogo Tahun 2015.
Hasilnya, sebagian besar 23 ibu hamil atau 76 persen responden berperilaku aktif, sedangkan sebagian kecil 7 orang atau 23 persen responden berperilaku pasif.
Sriningsih menjelaskan, berperilaku aktif artinya ibu hamil datang secara rutin mengikuti senam hamil berbasis tari Jathilan Ponorogo di Kelas Ibu Hamil yang dilaksanakan di Puskesmas Balong setiap seminggu sekali. Sedangkan berperilaku pasif yaitu ibu hamil yang datangnya tidak rutin.
Selanjutnya, Sri juga melakukan penelitian Pengaruh Perilaku Ibu Hamil dalam Senam Gerakan Tari Jathilan Ponorogo di Wilayah Puskesmas Balong Ponorogo pada 2016 lau. Dia membandingkan 30 orang ibu hamil yang aktif senam tari Jathil dengan 30 orang ibu hamil yang tidak mengikuti senam Jathil.
Hasilnya menunjukkan persalinan pada ibu yang tidak mengikuti Senam Hamil Berbasis Tari Jathilan Ponorogo lahir normal 4 orang (13,33 persen), lahir cepat 12 (40 persen), dan lambat 14 (46,67 persen).
Sedangkan, proses persalinan pada ibu bersalin yang mengikuti Senam Hamil Berbasis Tari Jathilan Ponorogo, lahir normal 12 orang (40 persen), cepat 10 (33,33 persen), lahir lambat 8 orang.
“Ini menunjukkan tari Jathil berpengaruh pada meningkatnya persalinan dengan normal dan lebih cepat,” sebutnya.
Sri bahkan mengkalim bahwa tari jathil untuk ibu hamil lebih banyak keunggulan dari sisi lebih mudah, mengandung unsur seni dan dapat dilakukan secara mandiri. Sebab, ibu hamil tentu bisa senam dengan mudah, murah, kapanpun dan dimanapun.
“Sambil masak pun bisa, tidak monoton seperti biasanya. Sehingga ibu hamil akan makin rajin senam hamil untuk persiapan persalinannya,” terangnya.
Yang jelas, dengan menghadirkan gerakan-gerakan tari Jathil dalam senam hamil merupakan salah satu usaha dalam pelestarian Reyog Ponorogo melalui kesehatan. Terobosan ini bisa mengangkat nama Ponorogo melalui kolaborasi seni budaya dengan dunia kesehatan.
“Jadi ada semacam kolaborasi yang saling menguntungkan satu sama lain. Seni budayanya lestari, sisi kesehatannya terpenuhi. Begitu sebaliknya,” ungkapnya.
Dengan rutin melakukan tari Jathil ibu hamil ini, menurut penuturan Sriningsih, banyak manfaat yang didapatkan ibu hamil dibanding senam hamil yang biasa.
Diantaranya, bisa menjaga kondisi otot-otot dan persendian yang berperan dalam proses persalinan. Termasuk bisa memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot panggul, ligamen dan jaringan yang berperan dalam proses persalinan.
“Kehamilan memang bisa membuat tubuh cepat lelah dan membuat ibu hamil ingin terus berbaring santai. Namun tidak bergerak secara aktif di masa hamil justru dapat membuat tubuh menjadi tidak bugar dan mempersulit proses persalinan. Senam yang dilakukan secara teratur dapat meningkatkan kekuatan otot tubuh menjelang persalinan,” tandas Sriningsih.
Tari Jathil ini, kata Sri juga dapat meningkatkan kesehatan fisik & mental serta kepercayaan diri sendiri maupun si penolong. Ditambah lagi, dengan tari Jathil bisa membimbing menuju ketenangan. Pun, mampu membentuk sikap tubuh yang prima dan membiasakan memakai teknik-teknik pernafasan persalinan.
Tak kalah penting juga, latihan fisik pada senam hamil berbasis tari Jathilan Ponorogo juga bisa meningkatkan kemampuan tubuh menyerap oksigen. Sebab, seorang ibu hamil membutuhkan oksigen 20 persen lebih banyak dibandingkan dengan perempuan yang tidak hamil.
Manfaat tari Jatil untuk ibu hamil ini salah satunya dirasakan Sunartin (37) warga dusun Bulak desa Nglarangan kecamatan Balong. Istri dari Sugiyono ini mengaku melahirkan dengan normal dan cepat setelah rutin tari jathil.
“Alhamdulillah lahir normal dan lancar. Terasa jam dua, eh jam empat sudah lahir,” ungkapnya.
Sunartin rajin mengikuti tari Jathil sejak usia kehamilannya lima bulan. Selain dibimbing bidan, di rumah ia mempraktikkan tari Jathil sambil beraktivitas. “Awalnya tidak suka tari, terus diajak saya mau dan senang, kalau di rumah egolan (menari) sambil masak,” katanya.
Mengetahui manfaatnya, Ibu dari Muhammad Arkhan Khoirul Anam ini mengajak tetangga maupun saudaranya agar rajin tari Jathil saat hamil. “Matur suwun bu Sriningsih. Semoga idenya bisa ditarikan oleh semua ibu hamil agar lancar dan normal saat persalinan,” doanya. (as)