Home Headline Inovasi Kades Barno, Sumur Pertanian Terintegrasi Tandingan Embung Jokowi

Inovasi Kades Barno, Sumur Pertanian Terintegrasi Tandingan Embung Jokowi

190
0

PONOROGO – Barno Kepala Desa Bringinan Kecamatan Jambon yang dikenal kreatif ini kembali menggebrak dengan inovasi temuan terbarunya.

Kali ini Barno mengangkat sebuah inovasi di bidang pertanian berjudul “Sumur Pertanian Terintegrasi, Tandingan Embung Jokowi”.

Inovasi itu dipresentasikan Barno dalam ajang lomba Inovasi TTG tingkat Kabupaten Tahun 2019 diadakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Kamis (31/10/2019) di Aula Lantai III Dinas PMD.

Sebelumnya temuan Barno ini bersama 7 peserta lomba lolos INOTEK tahun 2019. Rinciannya, 6 dari sekolah dan 1 milik Barno dari unsur kepala desa.

Dalam ulasannya didepan dewanjuri, Barno mengatakan, makna dari Terintegrasi adalah Tersambung. Tersambungnya pipa-pipa dari sistem sumur dalam tersebut.

Kedepan, Sumur dalam di desa Bringinan akan terintegrasi menjadi satu. Saat ini ada 8 tower dan 15 sumur dalam untuk pengambilan mata air dari dalam tanah.

Barno juga menjelaskan, pembangunan Tower gunanya untuk pendistribusian air ke jaringan-jaringan pipa yang tertananam di dalam tanah, kemudian disalurkan ke sawah pertanian warga.

“Tersambungya jaringan pipa ini yang kita namakan terintegrasi. Karena antara sumur yang satu dan lainnya tersambung jadi satu melalui pipa,” ucapnya.

Seperti, di dukuh Dondong sudah tersambung dengan dukuh Ngasem. Sekarang masih tersambung 4 sumur dalam dengan pipa-pipa yang ada didalam tanah.

“Dengan tersambungnya pipa-pipa ini, maka pendristribusian air menuju sawah milik para petani akan lebih mudah. Misalnya, dikala Dukuh Ngasem kekurangan air, mereka bisa mengambil air dari sumur di dukuh Dondong, dan sebaliknya,” terangnya.

Barno yang mantan TKI dari negara Jiran ikni juga mengungkapkan, makna dari terintegrasi pihaknya tidak menjual produk, namun hanya sebuah inspirasi.

Inspirasi dari sebuah terobosan baru untuk pemerintahan desa Bringinan khususnya dan desa-desa yang lain, karena saat ini dana desa begitu besar masuk di desa.

“Dengan adanya dana desa, maka pembangunan mulai dari pinggiran akan menuju keatas. Di Bringinan, kalau dari sektor pertanian, maka petani kedepan bisa makmur di desa Bringinan. Seperti Slogan dari Presiden Jokowi, yakni menuju Swasembada pangan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, program sumur pertanian terintegrasi sangat tepat di terapkan di desa Bringinan. Bantuan dari pusat, propinsi dan daerah kita satukan untuk kepentingan bersama. Untuk pengelolaannya melalui kelompok yang dinamakan Bumdes, semua ditata dengan baik, mulai dari status tanah untuk sumur dalam dan cara pendistribusian air.

“Di Bringinan, status tanah untuk sumur dalam harus dihibahkan, sehingga akan menjadi milik Desa. Agar desa mengatur lebih mudah, cukup tanah satu ru, kemudian kita cek lokasinya, baru kita bur untuk pembuatan sumur dalam,” terangnya.

Untuk itu, program dari pertanian yang diberikan di Desa Bringianan akan aman, dan tidak akan diklaim menjadi milik perseorangan.

Seperti tahun 2017 kata Barno, Bringinan dapat bantuan sumur dalam dari Dinas Pertanian walaupun yang menerima kelompok pertanian, tapi yang mengelo airnya tetap Bumdes. Kemudian, disambungkan dengan pipanisasi yang sudah ada agar bisa terintegrasi jadi satu jaringan pengairan.

“Juga dapat bantuan dari APBN sebesar 1,4 milyar, ini juga kita sambungkan pipanisasi dengan lainnya. Desa mempunyai kewenangan mengatur tempat dan lokasi, bila ada bantuan. Bukan mereka yang mengatur,” tandasnya.

Kenapa ini menjadi tandingan Embung Jokowi? Barno menjelaskan, proyek Embung dari Presiden Jokowi itu memerlukan lahan yang luas dan merupakan proyek Nasional atau proyek besar.

Tanahnyapun harus jelas, bukan tanah sengketa, kalau milik perseorangan harus dihibahkan. Kemudian luas tanah minimal 40 & 60, atau 60 & 80 dan lokasinyapun harus di tempat yang agak tinggi dari tanah pertanian.

“Kalau misalnya Bringinan mendapatkan bantuan embung dari Presiden Jokowi, tanah kita siapkan, namun kita kan masih banyak kendala terkait pembuatan embungnya, selain menaikkan tanah juga butuh biaya mahal, tidak efisen karena dua kali kerja,” katanya. Dia menambah, selain butuh lahan besar biaya juga sangat besar.

Beda dengan sumur pertanian terintegrasi, kata Barno bila Bringinan mendapat bantuan sumur dalam tinggal kita sambungkan dengan pipa yang sudah ada. Maka sudah ada jaringan pendistribusian air kesawah-sawah di Bringinan. (mny)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here