Home Budaya Jangan Gunakan Kresek Untuk Bungkus Daging Korban, Barno: Gunakan Encek, Biaya 0...

Jangan Gunakan Kresek Untuk Bungkus Daging Korban, Barno: Gunakan Encek, Biaya 0 Rupiah

180
0

PONOROGO (MP) – Bupati Ipong Muchlissoni mendasar pada SE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jendral pengelolaan sampah, limbah dan bahan beracun berbahaya, mengeluarkan surat himbauan pengurangan penggunaan plastik untuk membungkus daging korban.

Kompak bikin encek dari pohon pisang.

Dalam seruan tersebut agar masyarakat jangan menggunakan pembungkus dari plastik/tas kresek, sebagai penggantinya besek atau daun pisang yang ramah lingkungan.

Larangan itu ditanggapi positif oleh Barno salah satu Kepala Desa di Desa Bringinan Kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo.

“Setelah menerima surat himbauan dari Bupati, pihaknya mengusulkan kepada panitia korban,  bagaimana kalau menggunakan encek,  bahan dari pelepah pohon pisang (debok),” kata Barno, Minggu (11/08/2019).

Usulan itu mendapat respon positf dan dukungan dari panitia korban dan warga sekitar.

“Cara membuatnya, pelepah pisang dibuat menyerupai besek, bawahnya diberi anyaman dari potongan pohon bambu, sangat sederhana,” ucapnya.

Ide ini, lanjut Barno mengingat bahan dasar pohon pisang dan bambu cukup banyak di Desa Bringinan.

“Satu pohon pisang ukuran bulat 90 cm, sudah bisa menghasilkan 200 encek. Dan kebanyakan pohon ini diambilkan dari potongan pohon pisang yang sudah diambil buahnya,” terangnya.

Menurutnya, dari pada dibuang lebih baik dimanfaatkan untuk ganti kresek. Dan cara membuatnya tidak sulit.

“Ini kan juga sebagai pemanfaatan debog, dari pada dibuang begitu saja. Sebenarnya, debog ini juga bisa digunakan untuk bahan campuran pembuatan pupuk organik,” ucap kades gaul, yang terkenal dengan ide dan kreatifnya ini.

Selain itu, kata Barno dengan memanfaatkan pohon pisang bisa menghemat 0 rupiah.

“Kalau kita beli beser harganya Rp. 2 ribu sampai Rp 5 ribu rupiah. Sedang encek, asal kita mau mencari disekitar kita, Insyaalloh tanpa beli, costnya hanya tenaga, sedang tenaga kita mudah dengan gotong royong. Bisa dikata biaya O rupiah,” pungkasnya. (mny)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here