Home Budaya Tradisi Nyekar Jelang Puasa Ramadhan, Moment Rindu Dengan Almarhum

Tradisi Nyekar Jelang Puasa Ramadhan, Moment Rindu Dengan Almarhum

0

PONOROGO (MP) – Kegiatan tradisi berziarah ke makam keluarga (nyekar), menjadi salah satu tradisi masyarakat Ponorogo menjelang puasa Ramadhan.

Maka tidak heran, berbagai tempat pemakaman umum dipenuhi warga yang berziarah, menjelang puasa Ramadhan 1440 H, banyak tradisi yang dilakukan oleh umat Islam.

Salah satunya adalah berziarah ke makam keluarga atau nyekar.  Selain mendoakan keluarga mereka yang telah tiada, tradisi nyekar juga dimanfaatkan untuk merawat dan membersihkan kijing makam.

Seperti  tahun ini, beberapa tempat pemakaman umum di Desa Sumoroto tepatnya di tpu Astana Mulya Srawungan dipenuhi warga yang melaksanakan tradisi nyekar.

Seorang peziarah Lestari misalnya, mengatakan ia beserta keluarganya melaksanakan tradisi nyekar menjelang bulan Ramadhan rutin setiap tahun dilakukan.

“Ziarah ke makam orang tua, kakek, saudara. Kalau mau menjelang bulan puasa Ramadhan rutin kan ziarah, walau sekarang rumahnya tidak di Desa Sumoroto,” ujar Lestari.

Dia juga menjelaskan, tradisi nyekar sudah di lakukan sejak dulu, waktu itu orang tua mengajak nyekar, kemudian turun temurun sampai sekarang.

“Seperti, kemarin ke kota Kediri kita juga melakukan nyekar ke makam orang tua,” terangnya.

Banyaknya warga yang datang untuk berziarah, membuat kunjungan ke tempat pemakaman umum meningkat dua kali lipat.

Jika pada hari biasanya, tempat pemakaman umum tampak sepi dari peziarah, kini justru padat oleh peziarah yang datang, tidak hanya dari dalam kota, namun juga dari luar kota.

Kondisi ini juga dimanfaatkan oleh warga sekitar tempat pemakaman untuk meraih keuntungan selama musim nyekar  dengan berjualan bunga di depan gerbang tempat pemakaman.

Bunga yang biasa digunakan untuk ditaburkan di atas makam tersebut dijual dengan harga bervariasi.

Dari hasil berjualan bunga tabur musiman tersebut, seorang pedagang bahkan bisa meraup keuntungan hingga ratusan ribu rupiah perhari.

Seperti dikatakan Martini yang mengaku jual kembang melanjutkan dari ibunya. “Ya kalau laku ya enak lah jualan kembang ini, ada untungannya. Satu bungkus kita jual Rp. 2.500, kalau beli Rp 10.000 kita kasih 5 bungkus. Ya, lumayan untungnya bisa Rp. 100 – 150 ribu. Modalnya kita beli minyak, dan beberapa jenis kembang, lainnya mencari disekitar rumah,” tuturnya.

Selain tradisi nyekar, ada pula umat muslim yang melakukan tradisi megengan atau makan bersama untuk menyambut Ramadhan.

Dalam acara megengan, diisi doa doa syukur atas nikmat masih diberi kesehatan dan bisa puasa ramadhan, juga doa doa untuk orang tua, saudara yang sudah meninggal (tahlilan).

Berbagai tradisi yang patut dilestarikan tersebut merupakan warisan turun-temurun dari nenek moyang bangsa Indonesia sejak dulu. (mny)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here