SAMPUNG, Media Ponorogo — Garis finis seharusnya menjadi tempat merayakan keringat dan perjuangan.
Namun, bagi AR (12), siswi kelas VI SDN 2 Ronowijayan, garis akhir justru menjadi awal dari episode paling mengecewakan dalam hidupnya.
Berjuang merampungkan rute berat sejauh 10 kilometer dalam ajang Merdeka RUN Ponorogo 2026, namanya sempat berkumandang di panggung utama sebagai peraih podium kedua kategori putri.
Senyum kemenangan pun mengembang di wajah bocah itu.
Namun, kegembiraan tersebut seketika runtuh. Tanpa diduga, status juaranya dicabut alias didiskualifikasi oleh panitia.
Alasannya klasik: persoalan administratif.
Aturan Diungkit di Akhir, Pertanyakan Fungsi Chip Timing
Panitia berdalih, AR tidak membawa kelengkapan wajib berupa Handphone/GPS dan Personal Aid Kit—syarat yang sebelumnya sempat diumumkan lewat akun Instagram resmi event tersebut.
”Peserta tidak memenuhi persyaratan… walaupun mendapat potensial 2,” terang pihak panitia.
Bagi orang dewasa, administrasi adalah harga mati. Tapi bagi anak usia 12 tahun yang baru saja menguras tenaga demi melahap rute 10K, logika birokratis ini tentu sulit dicerna.
Ayah AR, Anang Sastro, tak bisa menyembunyikan amarah bercampur sesaknya dada. Bukan soal hadiah yang melayang yang ia ratapi, melainkan kesehatan mental sang buah hati.
”Anak sudah berjuang menyelesaikan 10K, namanya diumumkan juara dua, lalu dianulir. Yang saya pikirkan kondisi mentalnya,” keluh Anang.
Anang juga melontarkan kritik pedas kepada penyelenggara. Seharusnya, jika aturan tersebut mutlak, pemeriksaan ketat dilakukan sebelum peserta dilepas di garis start, bukan setelah peluh kering dan bendera finis berkibar.
Ia juga mempertanyakan urgensi chip timing yang sudah terpasang di nomor dada peserta jika masih harus direpotkan dengan aturan GPS terpisah.
Ujian Kedewasaan Panitia, Bukan Cuma Peserta
Kasus ini menyisakan lubang menganga pada profesionalisme penyelenggara Merdeka RUN Ponorogo 2026.
Publik kini berbalik menyoroti kinerja panitia: mengapa peserta yang dianggap “tidak memenuhi syarat” bisa lolos start, sukses menembus garis finis, bahkan sempat diumumkan sebagai juara?
Bagi AR, medali yang urung melingkar di leher mungkin bisa dilupakan seiring waktu. Namun, luka psikologis akibat harapan yang dipatahkan di tengah jalan tentu membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih. (sas/mas)









































