Home Headline Sering Andalkan Swadaya, Manfaat Dinilai Tak Kembali ke Masyarakat Desa Gajah, Kecamatan...

Sering Andalkan Swadaya, Manfaat Dinilai Tak Kembali ke Masyarakat Desa Gajah, Kecamatan Sambit, Ponorogo

0

Ditulis oleh : Arga Dira

Desa Gajah, Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo kembali menjadi sorotan warganya terkait pelaksanaan berbagai kegiatan desa yang dinilai terlalu sering mengandalkan swadaya masyarakat.

Mulai dari kegiatan bersih desa hingga kegiatan sosial lainnya, partisipasi warga memang tinggi, namun muncul pertanyaan mengenai manfaat yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

Kegiatan bersih desa yang rutin dilaksanakan setiap tahun menjadi salah satu contoh nyata. Warga dengan antusias bergotong royong membersihkan lingkungan, memperbaiki fasilitas umum, hingga menata area desa.

Meski demikian, sebagian warga menilai bahwa kontribusi tenaga, waktu, bahkan biaya yang dikeluarkan belum sepenuhnya diimbangi dengan hasil yang dirasakan.

“Kalau hanya mengandalkan swadaya terus, kami merasa capek juga. Harapannya jika ada swadaya maka ada manfaat yang kembali kami rasakan dan ada dukungan nyata dari pemerintah desa, bukan hanya warga saja yang terus bergerak,” ungkap salah satu warga.

Selain bersih desa, beberapa kegiatan lain seperti peringatan Agustutas yang sudah berjalan juga kerap dilakukan dengan pola serupa.

Hal ini menimbulkan persepsi bahwa peran anggaran desa belum dimaksimalkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah desa menyampaikan bahwa semangat swadaya merupakan bagian dari budaya gotong royong yang harus terus dijaga.

Nilai kebersamaan tersebut memang menjadi kekuatan utama desa, namun dalam pelaksanaannya tetap diperlukan keseimbangan agar tidak menimbulkan beban yang berulang bagi masyarakat.

Swadaya tersebut dihasilkan dari keputusan rapat yang dinilai tidak berjalan dengan Brainstorming, dikarenakan rapat hanya dikendalikan oleh pimpinan rapat dan peserta rapat dari berbagai unsur Lembaga Desa serta kepemudaan yang hadir tidak di wadahi ide, gagasan bahkan masukan dari tokoh Masyarakat tidak sempat disampaikan.

“Hal demikian terjadi karena dalam rapat yang digelar bukanlah musyawarah namun hanya peserta yang hadir seakan – akan hanya diminta mendengarkan berita, karena masukan yang muncul belum dibahas manfaat yang Kembali kepada masyarakat oleh pimpinan rapat langsung di cut” ungkap salah seorang anggota lembaga desa yang menjadi peserta rapat.

Opini & Solusi Membangun

Pengamat sosial desa menilai bahwa kondisi ini sebenarnya dapat menjadi momentum untuk melakukan pembenahan sistem pembangunan desa.

Swadaya masyarakat tetap penting, namun seharusnya berfungsi sebagai pendukung, bukan menjadi sumber utama dalam setiap kegiatan.

Pemerintah desa diharapkan dapat lebih transparan dalam pengelolaan anggaran serta menyusun skala prioritas yang jelas.

Dengan perencanaan yang matang, kegiatan desa dapat didanai secara lebih proporsional sehingga tidak selalu bergantung pada kontribusi warga.

Selain itu, inovasi dalam pengembangan potensi desa juga perlu ditingkatkan. Misalnya melalui penguatan sektor usaha desa, pemanfaatan potensi lokal, hingga kolaborasi dengan pihak luar seperti pemerintah daerah maupun sektor swasta.

Langkah ini tidak hanya mengurangi beban masyarakat, tetapi juga dapat menciptakan sumber pendapatan baru bagi desa.
Tokoh masyarakat juga mendorong adanya forum dialog rutin antara pemerintah desa dan warga.

Dengan komunikasi yang terbuka, aspirasi masyarakat dapat terserap dengan baik, sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan bersama.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Desa mampu berkembang menjadi desa yang mandiri, maju, dan sejahtera tanpa harus membebani masyarakat secara berlebihan.

Semangat gotong royong tetap terjaga, namun didukung oleh sistem yang adil, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here