KOTA, Media Ponorogo – Ada pemandangan menarik dalam pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kabupaten Ponorogo yang digelar Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) di Masjid Agung, Sabtu (18/4/2026).
Di balik optimisme meraih prestasi, muncul sebuah catatan penting mengenai peta kekuatan regenerasi qari-qariah di Kota Reog.
Yakni melimpahnya penghafal Al-Qur’an (tahfidz) yang belum dibarengi dengan ketersediaan ahli seni baca (tilawah) yang banyak.
Ketua Panitia MTQ Kabupaten Ponorogo, Ahmad Zubaidi, S.Pd., mengungkapkan bahwa secara kuantitas, Ponorogo sebenarnya tidak kekurangan bibit unggul di bidang hafalan.
Setiap tahun, ribuan santri dari tingkat SD hingga SMA tercatat lulus wisuda tahfidz dengan capaian yang luar biasa.
“Kalau bicara cabang tahfidz murni, pesertanya di Ponorogo ini luar biasa banyak, bisa mencapai ribuan setiap wisuda. Namun, tantangan besar muncul pada cabang yang mengombinasikan hafalan dan seni baca, seperti cabang Tahfiz 1 Juz dan Tilawah,” ungkap Zubaidi dalam sambutannya.
Menurutnya, seringkali ditemukan peserta yang memiliki hafalan sangat kuat, namun kemampuan olah vokal atau seninya masih standar.
Kondisi ini membuat LPTQ Ponorogo harus bekerja ekstra keras untuk melakukan sinkronisasi antara kualitas hafalan dan keindahan tilawah agar mampu bersaing di level yang lebih tinggi.
Target Emas Provinsi Jawa Timur
Meski menghadapi tantangan, rekam jejak Ponorogo di kancah nasional tetap disegani.
Pada 2024 lalu, kafilah Bumi Reog sukses menyabet Juara 1 Nasional cabang Kaligrafi dan Juara 2 Nasional Tilawah Anak.
Bahkan, pada MTQ Jatim 2025, gelar Juara 1 Tartil Anak juga berhasil dibawa pulang.
Zubaidi menegaskan, seleksi tahun ini menggunakan sistem selang-seling (tahun genap di tingkat kabupaten) untuk memastikan masa pembinaan berjalan lebih panjang.
“Setelah mendapatkan juara 1, 2, dan 3 hari ini, mereka akan kita ‘godok’ dalam pembinaan intensif selama satu tahun penuh menuju MTQ Jatim tahun depan,” tambahnya.
Tujuh Cabang Bergengsi
MTQ kali ini melombakan tujuh cabang utama, mulai dari Tartil, Tilawah Anak dan Remaja, hingga Kaligrafi yang meliputi kategori Dekorasi, Naskah, dan Kontemporer.
Khusus untuk kaligrafi, peserta langsung tancap gas selama 8 jam nonstop di lokasi lomba untuk menunjukkan konsentrasi dan kreativitas tinggi.
Mewakili Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Asisten Bupati Bambang Suhendro saat membuka acara berpesan agar ajang ini tidak hanya mengejar trofi.
“Kami berharap lahir duta-duta Qur’ani yang mahir secara teknis sekaligus memiliki akhlakul karimah. Kepada dewan juri, berikan penilaian seobjektif mungkin agar kita mendapatkan delegasi yang benar-benar berkualitas untuk mewakili Ponorogo,” tegas Bambang.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan pola pembinaan yang berkelanjutan, Ponorogo optimistis mampu mengonversi kuantitas tahfidz yang melimpah menjadi prestasi kualitas tilawah yang membanggakan di tingkat Jawa Timur maupun Nasional. (mas)
















































