JAMBON, Media Ponorogo – Aroma kayu bakar yang terbakar sempurna langsung menyergap indra penciuman begitu menapakkan kaki di sebuah dapur luas di Desa Poko, Kecamatan Jambon.
Di sana, kepulan asap tipis menari di antara langit-langit kayu, sementara suara derit api dari luweng (tungku tanah liat) menjadi musik pengiring aktivitas memasak yang tak pernah berubah sejak puluhan tahun silam.
Ini bukan sekadar dapur biasa. Inilah dapur dari Ayam Goreng Bu Sri Mitin, atau yang lebih kondang dengan sebutan Ayam Poko.
Di tempat ini, waktu seolah berhenti berputar, membiarkan keaslian rasa tetap bertahta di tengah gempuran modernitas kompor gas dan alat masak instan.
Warisan Zaman Kolonial
Jejak kuliner keluarga ini ternyata sudah tertanam jauh sebelum Indonesia merdeka.
Sang kakek buyut, Mbah Jainem atau Mbah Kusen, telah lebih dulu merintis usaha soto yang melegenda sejak zaman penjajahan Belanda.
Estafet rasa itu kemudian berlanjut, hingga resep ayam goreng muncul dan mulai dikenal luas, bahkan tercatat dalam ingatan lokal telah ada sejak masa kepemimpinan Bupati pertama Ponorogo.
Uniknya, keberadaan Ayam Poko juga berkelindan dengan sejarah pembangunan infrastruktur di Bumi Reog.
Konon, hidangan ini awalnya menjadi “jamuan wajib” bagi para pekerja proyek jalan raya Sumoroto.
Atas permintaan para pekerja yang merindukan makanan pedas, lahirlah racikan sambal khas dari tangan Lik Mitin yang kini diteruskan oleh generasi ketiga Sri Mitin.
Daya tarik utama Ayam Poko terletak pada cara penyajiannya yang “jujur”.
Pengunjung diajak masuk ke area dapur yang lapang—sebuah konsep yang sengaja dibuat los agar setiap tamu merasa seperti sedang pulang ke rumah nenek sendiri.
Di atas meja, satu porsi ayam kampung goreng yang bumbunya meresap hingga ke tulang bersanding mesra dengan:
Sayur Lodeh & Urap: Memberikan kesegaran sayur desa yang otentik.
Capar (Tauge): Tekstur renyah yang melengkapi setiap kunyahan.
Sambal Bawang: Sang bintang utama. Sambal ini dibuat dengan siraman minyak panas sisa gorengan ayam, menghasilkan sensasi gurih-pedas yang seringkali membuat penikmatnya lupa berhenti makan.
Menjaga “Ruh” Masakan
Meski telah berpindah ke lokasi saat ini sejak tahun 2011, konsistensi rasa tetap menjadi harga mati.
Penggunaan kayu bakar bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan cara menjaga “ruh” masakan agar aroma sangit yang khas tetap terjaga.
Di Desa Poko, Ayam Goreng Bu Sri Mitin membuktikan bahwa resep yang dimasak dengan ketulusan dan cara tradisional tidak akan pernah kehilangan penggemar.
Ia tetap berdiri kokoh, menjadi ikon kuliner yang tak hanya mengenyangkan perut, tapi juga membasuh rindu akan suasana hangatnya dapur masa kecil. (mas)
#AyamPoko #KulinerPonorogo #AyamGorengMitin #PonorogoHits #MasakanNdeso #KulinerLegendaris #JambonPonorogo














































