Home Pariwisata Keunikan Pakaian Reyog Pakem Lama Khas Plunturan Ponorogo

Keunikan Pakaian Reyog Pakem Lama Khas Plunturan Ponorogo

0

REYOG adalah topeng raksasa dengan perpaduan dua binatang, yakni macan dan merak. Ini adalah simbol dari Kota Ponorogo yang merupakan tempat asal dari Reyog itu sendiri.

Di tengah maraknya inovasi serta kreasi tarian Reyog, Desa Plunturan adalah salah satu, bahkan mungkin satu-satunya, desa di Kecamatan Pulung, Ponorogo yang memegang teguh pakem lama. Hal ini dilakukan demi melestarikan tarian Reyog warisan leluhur.

Upaya mempertahankan pakem lama ini lantas berdampak pula pada pakaian para penari yang berbeda dari penari Reyog pada umumnya.

Pelaku seni di Desa Plunturan memproduksi sendiri pakaian-pakaian para penari itu. Tidak hanya digunakan untuk desa sendiri, mereka juga menyuplai pakaian tari untuk desa-desa lainnya. Sehingga, yang dibeli hanya alat dan bahan untuk produksi.

Terdapat beberapa perbedaan utama pada kostum Reyog pakem lama dan Reyog kreasi. Misalnya, dalam Reyog kreasi para penari memakai baju atasan berupa kebaya.

Sedangkan, pada Reyog pakem lama menggunakan kejawen berwarna putih berupa surjan.

Tidak hanya itu, untuk celana yang digunakan pada pakem lama adalah celana jathil dengan ukuran kurang lebih selutut.

Sedangkan, untuk Reyog kreasi menggunakan celana pendek dengan tambahan stocking.

Yang terakhir, terdapat pada aksesoris kepala. Untuk Reyog lama menggunakan udheng/blangkon yang khas dengan warna hitam dengan tambahan motif garis emas.

Sedangkan, Reyog kreasi hanya memakai udheng biasa.

• Surjan : Baju putih serupa kemeja
• Celana jathil : Celana hitam berbahan bludru bermotif batik berukuran kurang lebih selutut
• Jarit : Kain batik yang di letakan di atas celana panji
• Udheng/blangkon : Hiasan pada kepala
• Krincing : Hiasan pada kaki yang dapat mengeluarkan bunyi
• Pangkat : Hiasan yang berapa pada bahu
• Sumping : Atribut yang terdapat pada telinga

Masing masing atribut memiliki mekanisme perawatan tersendiri. Seperti celana jathil yang bahanya bludru tebal tidak boleh sering-sering dicuci agar tidak cepat rusak. Dugel adalah pelaku seni yang bertugas untuk mencuci dan merawat pakaian Reyog di Desa Plunturan.

Hingga kini, masyarakat Plunturan hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai upaya pelestarian budaya. Seni Reyog merupakan cipta kreasi manusia yang termembentuk aliran kepercayaan yang terjaga secara turun temurun.

Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas.

Mereka menganut garis keturunan Parental atau turun temurun dari warisan keluarga, serta konsisten patuh pada hukum adat yang berlaku.

(Ditulis oleh Rienta Julianti, Mahasiswa Untag Surabaya Jurusan Sastra Inggris Semester 7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here