NGEBEL, Media Ponorogo – Udara dingin yang menyelimuti Telaga Ngebel belakangan ini terasa lebih hangat dengan kehadiran sebuah fenomena kuliner unik.
Bukan sekadar getuk biasa, kudapan singkong asal Desa Wagir Lor ini mendadak viral di jagat maya berkat racikan strategi marketing yang tak biasa dari penjualnya.
Seorang pemuda dengan kaus bertuliskan “Santrine Kyai 06#” usai mengambil bungkusan di keranjang motor tampak sibuk menawarkannya ke pengunjung telaga.
Dengan gaya bicara yang rima dan jenaka, ia menawarkan dagangannya layaknya seorang orator.
“Ini roti Jepang yang dikirim Thailand lewat iminoto Pulau Jawa, nggih niku getuk telo, Pak!” serunya kepada pengunjung.
Tak berhenti di situ, ia bahkan berkelakar bahwa mengonsumsi getuknya sudah ada “hadisnya”.
“Sesungguhnya orang yang beli itu mendapatkan barangnya, Hadis Riwayat Getuk Bukhori,” candanya yang disambut tawa para wisatawan.
Meski dibumbui dengan humor, kualitas rasa tetap menjadi pondasi utama.
Getuk ini diproduksi secara mandiri setiap dini hari sekitar pukul 02.00 WIB untuk menjaga kesegaran.
Satu lonjor getuk dibanderol dengan harga Rp10.000, namun ia memberikan promo khusus bagi pembeli borongan. “Cukup membayar Rp40.000 untuk mendapatkan empat lonjor,” kelakarnya.
Menariknya, gethuk yang dibuntel kertas minyak itu juga terdapat stempel.
Si penjual juga tak pelit berbagi rahasia dapur agar getuk tetap nikmat saat dibawa pulang.
Ia menyarankan jika ingin digoreng, tidak perlu menggunakan tambahan tepung.
“Syaratnya minyak harus benar-benar panas. Kalau tidak panas, minyak meresap dan getuknya malah hancur kayak hatinya dia,” tuturnya sembari memotong getuk dengan cekatan.
Pemuda yang dikenal melalui akun TikTok Santrine Kyai ini merupakan warga asli Dusun Jugo, Desa Wagir Lor, yang berada di kawasan atas pemandian air panas.
Keberhasilannya menarik perhatian pengunjung menunjukkan potensi besar UMKM lokal Ponorogo jika dikemas dengan kreativitas.
Dalam sehari, volume penjualan sangat bergantung pada cuaca. Jika matahari bersinar cerah, ia mampu menghabiskan empat hingga tujuh keranjang getuk.
Bahkan pada masa libur lebaran, penjualannya bisa melonjak hingga puluhan keranjang, menjadikannya salah satu ikon kuliner baru yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Telaga Ngebel. (mas)















































