Home Birokrasi Kekeringan Butuh Penanganan Jangka Panjang

Kekeringan Butuh Penanganan Jangka Panjang

69
0
Ali Mufthi Ketua DPRD Ponorogo

PONOROGO (MP) – Kekeringan yang dialami warga di Kabupaten Ponorogo butuh penanganan jangka panjang Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ponorogo merekomendasikan agar pemerintah Daerah  menyikapi bencana kekeringan secara serius. Sebab sejauh ini, antisipasi yang dilakukan jangka pendek dengan pendistribusian air bersih tanpa mengambil langkah jangka panjang. Kekeringan di Ponorogo  menjadi bencana tahunan, di mana setiap kali musim kemarau melanda, bisa dipastikan disejumlah kecamatan  terutama didaerah pegunungan atau dataran tinggi mengalami kekeringan.

Oleh karenanya, dibutuhkan penanganan serius supaya kekeringan bisa tertangani dengan baik. Paling tidak, jumlah wilayah kekeringan bisa dikurangi. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh Pemkab untuk mengurangi banyaknya wilayah yang tiap tahun menjadi langganan kekeringan. Hal ini diungkapkan ketua DPRD Ponorogo Ali Mufthi kepada sejumlah media, Rabu (13/09).

“Pertama yang dilakukan adalah gerakan reboisasi atau penanaman hutan kembali. Agar pusat-pusat sumber mata air bisa terkendali dengan baik,” ujarnya. Selain itu, pelaksanaan proyek waduk Bendo segera diselesaikan, dipercepat yang tentunya menjadi target dari Pemerintah Daerah. Dengan demikian, adanya kekurangan air yang melanda Ponorogo bisa diantisipasi.

Politisi asal Partai Golkar itu juga menambahkan, agar pemkab bisa menganggarkan pembuatan sumur dalam.  Dengan kedalaman sumur dalam antara 50 meter sampai 60 meter pembuatannya tidak mahal, dan itu bisa dilaksanakan diseluruh kabupaten Ponorogo. “Ini sudah pernah kita lakukan, Saya membuat sumur dalam di Kecamatan Mlarak kedalaman 60 meter hanya menghabiskan biaya Rp. 9 juta. Dan hasilnya sumur ini bisa dipakai orang banyak. Dan ini harus bisa, pemkab harus bisa,” terangnya.

Semua itu lanjut Ali, demi kepentingan masyarakat. Kami mengharapkan Pemkab mempunyai planning  untuk jangka panjang. Apalagi kemarau dan berakibat kekeringan itu tiap tahun menimpa saudara kita yang wilayah tetap bisa dipantau.  Seperti di Kecamatan Sampung, Badegan, Slahung, Ngrayun,  Sawoo, Mlarak dan Pulung. “Jangan hanya penanganan sesaat, atau jangka pendek saja. Mari kita carikan penanganan kekeringan ini untuk jangka panjang,” tandasnya.

Sementara itu, kabid kedaruratan logistic BPBD Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono mengungkapkan, saat ini frekkuensi pengiriman air bersih di beberapa kecamatan bertambah lagi. “Biasanya dalam satu minggu untuk satu desa, kita bisa melayani dua kali droping air bersih. Sekarang kita atur lagi, karena dalam satu hari menjadi tiga desa yang harus kita layani,” ungkapnya.  Ia juga menjelaskan, droping air bersih terpaksa dibagi sedemikian agar menjadi rata. Karena semua membutuhkan.

Dikatakan, kendala yang dihadapi BPBD saat ini adalah kurangnya armada pengiriman air bersih. “Saat ini kita memiliki tiga armada, kapasitas 6000 liter. Dan kendala lainnya, ada beberapa tendon yang saat ini sudah pada rusak, sehingga kita buatkan tandon dari terpal seperti di Desa tulung. Sedang lainnya yang tidak ada tandonnya terpaksa langsung kerumah-rumah warga dengan menggunakan jerigen,” pungkasnya. (mny)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here